Cacatanpublik.com– Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Timur (Dindik Jatim) terus memperkuat pendidikan karakter dengan menanamkan nilai kejujuran dan integritas kepada peserta didik sejak dini. Melalui rangkaian Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) Tahun Ajaran 2026/2027, Dindik Jatim menggelar Penyuluhan Antikorupsi Digital yang melibatkan sekitar 300 ribu pelajar SMA, SMK, dan SLB.
Kegiatan tersebut menjangkau peserta didik di 4.060 satuan pendidikan di Jawa Timur,Para pelajar mengikuti penyuluhan secara luring dan daring sebagai bagian dari upaya membangun kesadaran mengenai pentingnya kejujuran,
“tanggung jawab, dan integritas dalam kehidupan sehari-hari.
Pelaksanaan penyuluhan antikorupsi digital tersebut juga mengantarkan Dindik Jatim mencatat Rekor MURI dalam kategori Penyuluhan Antikorupsi Digital dengan jumlah peserta terbanyak.
Dindik Jatim menjadikan capaian tersebut sebagai momentum untuk memperkuat komitmen membangun ekosistem pendidikan yang berintegritas dan berkarakter.
Pembukaan MPLS Nasional dipimpin Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Mu’ti. Di Jawa Timur, kegiatan berlangsung di SMKN 2 Singosari,
Kabupaten Malang, dan dihadiri Asisten Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat Setdaprov Jatim Imam Hidayat serta Kepala Dindik Jatim Aries Agung Paewai.
Sekretaris Jenderal Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Cahya Hardianto Harefa turut memberikan penguatan antikorupsi kepada para peserta melalui siaran daring.
Kehadiran KPK memberikan pesan kuat kepada para pelajar agar membangun kebiasaan jujur dan bertanggung jawab sejak berada di bangku sekolah.
Kepala Dindik Jatim Aries Agung Paewai menegaskan bahwa pendidikan antikorupsi harus dimulai sejak dini.
Menurutnya, sekolah memiliki peran penting dalam membentuk karakter peserta didik agar memahami dan menerapkan nilai kejujuran dalam berbagai aktivitas.
“Ini merupakan inisiasi bagi kami untuk mewujudkan pendidikan berintegritas. Pendidikan kejujuran harus dimulai dari lingkungan sekolah, bahkan dari hal-hal yang paling sederhana,” ujar Aries.
Aries menilai momentum MPLS menjadi waktu yang tepat untuk mengenalkan nilai-nilai antikorupsi kepada peserta didik baru.
Ia berharap para pelajar tidak hanya memahami materi yang disampaikan, tetapi juga menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari.
“Korupsi mencederai prinsip-prinsip integritas. Karena itu, sejak hari pertama MPLS kami mengenalkan nilai kejujuran kepada para murid,” katanya.
Untuk memperkuat materi penyuluhan, Dindik Jatim melibatkan Penyuluh Antikorupsi (PAK) Jawa Timur serta guru-guru yang telah mendapatkan pelatihan penguatan integritas.
Mereka memberikan pemahaman kepada para peserta mengenai pentingnya membangun budaya antikorupsi melalui kebiasaan sederhana.
Dalam kegiatan tersebut, Aries Agung Paewai juga memimpin pembacaan Deklarasi Gema Integritas. Melalui deklarasi itu, insan pendidikan Jawa Timur menyatakan komitmen untuk menjunjung tinggi kejujuran dan menolak segala bentuk kecurangan.
Deklarasi tersebut juga mendorong seluruh insan pendidikan menjadikan budaya integritas sebagai fondasi dalam membangun ekosistem pendidikan yang berkarakter.
Para peserta juga diajak memperkuat semangat saling menghargai, bekerja sama, dan memberikan pelayanan terbaik demi menciptakan pendidikan yang berkualitas.
Sementara itu, Sekjen KPK Cahya Hardianto Harefa mengapresiasi langkah Dindik Jatim yang memasukkan pendidikan antikorupsi dalam rangkaian MPLS.
“Kami menyambut baik penyuluhan antikorupsi di Jawa Timur untuk menumbuhkan kejujuran dan membentuk sikap tanggung jawab siswa sejak jenjang SMA, SMK, dan SLB,” ujar Cahya.
Ia menjelaskan bahwa pendidikan menjadi salah satu strategi utama dalam membentuk generasi yang jujur, mandiri, bertanggung jawab, disiplin, adil, peduli, sederhana, berani, dan pekerja keras.
Cahya menegaskan bahwa integritas tidak terbentuk secara instan.
Peserta didik perlu membangun karakter tersebut melalui kebiasaan kecil yang dilakukan secara konsisten, seperti datang tepat waktu, menjaga amanah, tidak menyontek saat ujian, berani mengakui kesalahan,
serta menjaga fasilitas sekolah.
Menurutnya, perilaku tidak jujur dapat berkembang menjadi kebiasaan buruk apabila seseorang membiarkannya sejak dini. Karena itu, pendidikan antikorupsi perlu diberikan secara berkelanjutan agar peserta didik terbiasa mengambil keputusan berdasarkan nilai kejujuran.
Melalui penyuluhan yang melibatkan sekitar 300 ribu pelajar tersebut, Dindik Jatim berupaya memperluas pendidikan antikorupsi sekaligus membangun budaya integritas di lingkungan sekolah.
Rekor MURI yang diraih melalui kegiatan tersebut diharapkan tidak hanya menjadi pencapaian administratif atau seremonial. Dindik Jatim ingin menjadikan momentum tersebut sebagai langkah awal untuk memperkuat kebiasaan jujur di kalangan peserta didik.
Dindik Jatim juga mendorong sekolah, keluarga, pemerintah, dan berbagai pihak terkait untuk bersama-sama membangun lingkungan pendidikan yang mendukung tumbuhnya karakter positif.
Dengan kolaborasi tersebut, Dindik Jatim berharap dapat melahirkan generasi muda Jawa Timur yang tidak hanya unggul dalam prestasi akademik, tetapi juga memiliki integritas, menjunjung tinggi kejujuran, bertanggung jawab, serta berani menolak segala bentuk kecurangan dan korupsi.
(Red)












