Pasuruan – Suasana khidmat menyelimuti kawasan Petirtaan Belahan atau yang lebih dikenal masyarakat dengan sebutan Sumber Tetek pada malam 1 Suro 1448 Hijriah. Kegiatan tersebut menjadi momentum bagi masyarakat untuk menjaga nilai-nilai tradisi, budaya, serta penghormatan terhadap peninggalan sejarah leluhur.
Acara ini dihadiri oleh para sesepuh desa, tokoh masyarakat, serta warga yang ingin turut merasakan suasana malam pergantian tahun dalam penanggalan Jawa tersebut. Salah satu tokoh yang hadir adalah Ketua PPD yang akrab disapa Pak Uyil, yang juga dikenal sebagai sesepuh desa.
Dalam suasana penuh kekeluargaan, para peserta mengikuti rangkaian kegiatan dengan penuh khidmat. Kehadiran masyarakat di Petirtaan Belahan menjadi bukti bahwa situs bersejarah ini masih memiliki nilai penting, bukan hanya sebagai peninggalan masa lalu, tetapi juga sebagai ruang berkumpul dan mempererat hubungan sosial antarwarga.
Petirtaan Belahan merupakan salah satu warisan sejarah Kerajaan Medang pada masa pemerintahan Airlangga. Keberadaan sumber air dan arca peninggalan di lokasi tersebut menjadikan kawasan ini memiliki daya tarik sejarah dan budaya yang kuat.
Pak Uyil dalam kesempatan tersebut menyampaikan pentingnya menjaga warisan leluhur agar tetap lestari dan dapat dikenal oleh generasi mendatang. Menurutnya, kegiatan budaya seperti malam 1 Suro bukan hanya menjadi tradisi, tetapi juga menjadi sarana mempererat kebersamaan masyarakat.
“Petirtaan Belahan adalah bagian dari sejarah yang harus kita rawat bersama. Dengan menjaga budaya dan peninggalan leluhur, kita ikut menjaga jati diri bangsa,” ujar Pak Uyil.
Melalui kegiatan malam 1 Suro 1448 H ini, masyarakat berharap Petirtaan Belahan tetap menjadi tempat yang terawat, memiliki nilai edukasi sejarah, serta menjadi salah satu destinasi budaya yang membanggakan bagi masyarakat Pasuruan dan Jawa Timur.(Tik)










