Bambu Disulap Jadi Miniatur Kapal, Warga Binaan Lapas Narkotika Karang Intan Asah Kreativitas dan Keterampilan

Karang Intan, Catatanpublik.com –

Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Narkotika Kelas IIA Karang Intan terus mengembangkan kreativitas warga binaan melalui pembinaan kemandirian. Selasa (22/09/2026), warga binaan mengolah bambu menjadi miniatur kapal dengan mengandalkan ketelitian, kreativitas, dan keterampilan. Petugas Seksi Kegiatan Kerja (Giatja) mendampingi dan mengawasi setiap proses pembuatannya.

Proses pembuatan miniatur kapal dilakukan secara bertahap, mulai dari memilih dan menyiapkan bambu, mengukur bahan sesuai kebutuhan, memotong dan membentuk bagian-bagian kapal, hingga merangkainya menjadi sebuah miniatur. Setiap tahapan membutuhkan ketepatan dan kesabaran agar menghasilkan karya yang rapi serta memiliki nilai estetika.

Petugas Seksi Kegiatan Kerja (Giatja) Lapas Narkotika Kelas IIA Karang Intan, Yusron Rifki, mengatakan pembuatan miniatur kapal menjadi sarana bagi warga binaan untuk belajar menghasilkan karya melalui proses yang membutuhkan ketelitian, kesabaran, dan kreativitas.

“Pembuatan miniatur kapal melatih warga binaan untuk bekerja teliti, sabar, dan kreatif. Kami mendampingi sekaligus mengawasi setiap proses agar mereka dapat mengikuti tahapan pengerjaan dengan baik. Kami berharap kemampuan yang mereka pelajari di sini terus berkembang dan dapat mereka manfaatkan ketika kembali ke masyarakat,” ujar Yusron.

Menurut Yusron, proses mengolah bambu menjadi produk kerajinan juga mengenalkan warga binaan pada tahapan kerja yang dapat diterapkan dalam kegiatan produktif. Mereka belajar mengolah bahan sederhana, menjaga kualitas hasil, serta menyelesaikan pekerjaan secara bertahap hingga menghasilkan produk yang memiliki nilai.

Salah seorang warga binaan berinisial BD mengaku senang mengikuti pembuatan miniatur kapal karena dapat menyalurkan kreativitas sekaligus mempelajari cara mengolah bambu menjadi sebuah karya.

“Di sini kami belajar dari menyiapkan bambu, mengukur, sampai menyusun bagian-bagian kapal. Pengerjaannya harus teliti dan sabar supaya hasilnya rapi. Saya senang karena bisa belajar membuat sesuatu dari bahan sederhana dan berharap keterampilan ini bisa saya gunakan setelah bebas,” ungkap BD.

Kegiatan tersebut juga melatih warga binaan membangun kebiasaan kerja yang produktif. Ketelitian dalam mengukur bahan, kesabaran saat merangkai bagian kapal, serta tanggung jawab menyelesaikan pekerjaan menjadi pengalaman yang dapat mereka bawa sebagai bekal ketika kembali ke lingkungan masyarakat.

Melalui kegiatan ini, warga binaan belajar mengolah bahan sederhana menjadi produk kreatif yang memiliki nilai estetika dan potensi ekonomi. Mereka juga dapat mengembangkan kemampuan tersebut menjadi berbagai produk kerajinan sesuai kreativitas dan kebutuhan pasar, sehingga keterampilan yang diperoleh dapat menjadi salah satu modal untuk membuka peluang usaha setelah bebas.

Melalui kegiatan tersebut, Lapas Narkotika Kelas IIA Karang Intan mendorong warga binaan mengembangkan kreativitas menjadi keterampilan produktif yang dapat mereka manfaatkan sebagai peluang usaha setelah kembali ke masyarakat. Pembinaan kemandirian pun diarahkan agar memberikan pengalaman nyata, sehingga warga binaan memiliki kemampuan untuk berkarya dan menjalani kehidupan yang lebih produktif setelah menyelesaikan masa pidana. (nta).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *