SURABAYA β Film “Tanah Runtuh” resmi diputar di Bioskop Tunjungan Plaza 1 Lantai 5, Surabaya, pada Minggu (28/6/2026). Film garapan sutradara Rudi Soedjarwo yang diproduksi Denny Siregar Production ini dibintangi oleh Vino G. Bastian bersama sejumlah aktor dan aktris ternama lainnya.
Film ini mengangkat kisah yang terinspirasi dari tragedi konflik yang terjadi di Poso. Cerita diawali dari sebuah konflik kecil yang perlahan berkembang menjadi kerusuhan besar hingga memicu kekacauan di tengah masyarakat.
Dalam salah satu adegan, sebuah ledakan bom mengguncang pasar yang menjadi pusat aktivitas warga. Disusul rentetan tembakan, suasana berubah mencekam. Warga panik dan berlarian menyelamatkan diri dari ancaman yang datang secara tiba-tiba.
Akibat konflik tersebut, banyak rumah warga hancur rata dengan tanah, sementara ribuan masyarakat terpaksa mengungsi ke berbagai posko penampungan. Di tengah situasi tersebut, dua anak bernama Ringgo dan Kai terpisah dari kedua orang tuanya sehingga harus bertahan hidup di tengah kondisi yang penuh ketidakpastian.
Perjalanan mereka mencari keluarga membawa keduanya bertemu dengan seorang anggota kepolisian bernama Idham. Dengan penuh kepedulian, Idham berupaya membantu mencari keberadaan orang tua Ringgo dan Kai dengan menyusuri berbagai posko pengungsian hingga pelosok desa, meski situasi keamanan masih sangat rawan.
Konflik yang belum mereda membuat masyarakat terus hidup dalam ketakutan. Aliran listrik padam di sejumlah wilayah, sementara aparat kepolisian yang bertugas harus menghadapi berbagai aksi teror dari kelompok bersenjata. Untuk memperkuat penanganan konflik, seorang perwira dari Mabes Polri turut diterjunkan guna membantu proses pengamanan sekaligus pencarian para korban yang terpisah dari keluarganya.
Ketegangan kembali memuncak ketika rombongan polisi yang sedang beristirahat makan siang mendadak diserang rentetan tembakan. Serangan tersebut membuat Ringgo dan Kai ketakutan. Demi keselamatan keduanya, Idham memutuskan memindahkan mereka ke posko pengungsian yang dinilai lebih aman.
Meski kelompok pembuat kerusuhan terus melancarkan aksi teror melalui ledakan bom dan penembakan, aparat kepolisian bersama tim gabungan akhirnya berhasil mengendalikan situasi dan melumpuhkan para pelaku.
Film “Tanah Runtuh” tidak hanya menyajikan ketegangan dan aksi, tetapi juga mengangkat nilai-nilai kemanusiaan, keberanian, pengorbanan, serta pentingnya persatuan di tengah konflik. Kisah perjuangan Ringgo dan Kai yang akhirnya kembali dipertemukan dengan kedua orang tuanya menjadi penutup yang mengharukan sekaligus memberikan harapan bahwa kasih sayang dan kemanusiaan dapat mengalahkan kebencian.
(Ghonys)











