Cacataanpublik.com,// Anggota DPRD Jawa Timur dari Fraksi PKS, Puguh Wiji Pamungkas, menegaskan bahwa pendidikan di Jawa Timur harus berkeadilan dan berbasis kualitas,
Mengingat jumlah anak usia sekolah di provinsi ini mencapai sekitar 8,9 juta jiwa.
“Dengan jumlah anak usia sekolah yang sangat besar, Jawa Timur memiliki peluang luar biasa untuk melahirkan generasi unggul.
Namun tantangan pemerataan akses dan kualitas pendidikan harus dijawab dengan kebijakan yang tepat,” ujar Puguh, Anggota Komisi E DPRD Jatim, Senin (9/2/2026).
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Jawa Timur 2025, jumlah anak usia sekolah mencakup berbagai jenjang pendidikan, mulai dari PAUD hingga SMA/SMK, dengan rincian: 1,2 juta anak PAUD, 4,1 juta siswa SD/MI, 2,1 juta siswa SMP/MTs, dan 1,5 juta siswa SMA/SMK/MA.
Puguh menyoroti masih adanya kesenjangan pendidikan antara wilayah perkotaan dan pedesaan.
Beberapa daerah perifer masih menghadapi keterbatasan infrastruktur sekolah, distribusi tenaga pendidik, hingga akses teknologi pembelajaran.
“Pemerataan pendidikan harus menjadi prioritas utama. Intervensi kebijakan dan anggaran Pemprov Jatim perlu difokuskan pada wilayah yang tertinggal,” tegasnya.
Selain pemerataan, Puguh menekankan peningkatan kualitas guru sebagai ujung tombak pendidikan.
Jawa Timur memiliki sekitar 590 ribu guru, namun persoalan kompetensi dan kesejahteraan guru masih menjadi perhatian serius.
“Peningkatan kompetensi guru harus dibarengi dengan perhatian terhadap kesejahteraan agar mereka bisa fokus pada proses belajar mengajar,” jelasnya.
Dalam menghadapi era digital, Puguh menilai integrasi teknologi dalam kurikulum menjadi keniscayaan.
Anak-anak saat ini merupakan generasi native digital, sehingga pendidikan harus menekankan keterampilan abad ke-21, seperti berpikir kritis, kreativitas, komunikasi, dan kolaborasi.
Puguh juga menyoroti pendidikan vokasi dan link & match dengan industri, mengingat tingkat pengangguran terbuka di Jawa Timur masih banyak disumbang oleh lulusan SMA/SMK.
“Link and match antara pendidikan vokasi dan kebutuhan industri harus diperkuat agar lulusan siap kerja dan mampu bersaing,” ujarnya.
Tak kalah penting, Puguh menegaskan bahwa pendidikan harus tetap berakar pada nilai karakter dan budaya lokal, seperti gotong royong, etos kerja, dan toleransi. Pendidikan bukan hanya soal akademik,
“tetapi juga pembentukan karakter sebagai bekal menghadapi tantangan global.
“Pendidikan berkualitas yang merata dan berkeadilan akan menjadi fondasi bagi generasi muda Jawa Timur untuk bersaing di tingkat nasional maupun global,” pungkas Puguh.(Yud) apa













