JUDI TOGEL MERAJALELA DI MANOKWARI KOORDINATOR “IBU RERE” TERANG-TERANG BEROPERASI, TERKESAN KEBAL HUKUM

cacatanpublik.com // Praktik judi toto gelap (togel) kini beroperasi secara sangat bebas, terbuka, dan merajalela di seluruh wilayah Manokwari, hukum Polda Papua Barat.

Yang paling mencolok dan memicu kemarahan publik:

ada satu sosok koordinator utama bernama Ibu Rere, yang diketahui mengendalikan jaringan luas, bergerak terang-terangan, namun sama sekali tidak tersentuh hukum, aman sentosa, seolah punya kekebalan hukum khusus.

 

Masyarakat sangat kecewa dan menduga kuat ada pembiaran, perlindungan, atau permainan oknum di lingkungan Polda Papua Barat,

karena penindakan hanya dilakukan Bersifat Formalitas, sementara pengendali utama seperti Ibu Rere justru disampingkan, dibiarkan, dan dijadikan “orang yang tidak boleh disentuh”.

 

Berdasarkan pantauan dan laporan warga, Ibu Rere adalah sosok sentral, koordinator tertinggi yang mengatur ratusan lapak, pengecer, dan jalur perputaran uang judi togel di kota maupun kabupaten.

Ia dikenal luas, alamat dan tempat operasinya diketahui semua orang, bahkan sering terlihat beraktivitas di tempat umum.

“Semua orang tahu siapa Ibu Rere, di mana dia berkantor, siapa anak buahnya. Dia yang pegang kendali, atur pembagian uang, dan pastikan semua berjalan lancar.

Tapi anehnya, polisi sama sekali tidak pernah mendatangi, memanggil, apalagi menangkap.

Kalau pengecer kecil ditangkap, dia malah datang menegur, aman saja. Kenapa dia kebal?” ungkap warga yang minta namanya disembunyikan.

Judi togel kini dijual seperti barang dagangan biasa:

di warung, pinggir jalan, pasar, hingga dekat fasilitas umum. Merusak ekonomi warga, membuat banyak keluarga hancur, bahkan anak-anak ikut dilibatkan.

Namun Polda Papua Barat terkesan tutup mata, diam saja, dan tidak berani menyentuh akar masalahnya.

PERTANYAAN KERAS MASYARAKAT:

1. Kenapa Ibu Rere yang jelas-jelas KOORDINATOR, PENGENDALI UTAMA justru paling aman, paling dilindungi, dan tidak pernah diproses? Apakah dia punya hubungan, uang setoran, atau bekingan kuat di Polda?

2. Undang-Undang Pidana dan UU Pencegahan Pemberantasan Judi jelas: siapa yang mengatur, mengelola, atau membiarkan = pidana lebih berat. Kenapa hukum cuma tajam ke bawah, tapi tumpul sama sekali ke atas?

3. Apakah Polda Papua Barat sengaja memelihara judi ini? Kenapa baru berani tangkap orang kecil, tapi takut atau tidak mau sentuh bos besarnya?

 

Warga menduga ada aliran uang dan “uang damai” yang dibayarkan rutin ke oknum tertentu, sehingga Ibu Rere dan jaringannya bisa berkuasa seolah di atas hukum negara.

DESAKAN TEGAS:

Masyarakat mendesak Kapolda Papua Barat, Kadiv Propam, dan Mabes Polri segera:

✅ Tangkap dan proses hukum Ibu Rere selaku koordinator utama

✅ Bongkar seluruh jaringan sampai ke akar-akarnya

✅ Usut oknum yang diduga melindungi atau menerima setoran

✅ Hentikan pembiaran yang mencoreng nama baik Polri

 

“Kalau Ibu Rere tidak ditangkap, berarti Polda papua Barat tidak serius. Hukum harus sama rata: Jangan biarkan ada warga negara yang kebal hukum, apalagi dalam hal judi yang merusak kita semua.”

 

Keadilan tidak boleh pilih kasih. Warga siap mengawasi dan melapor sampai kasus ini tuntas.(HR)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *