Cacatanpublik.com– Kontingen Jawa Timur menorehkan prestasi pada ajang WorldSkills Competition (WSC) Shanghai 2026. Dari sembilan penghargaan yang diraih Indonesia, tiga di antaranya berasal dari perwakilan Jawa Timur.
Indonesia membawa pulang sembilan penghargaan dari kompetisi keterampilan vokasi tingkat dunia yang berakhir pada Senin (28/9/2026). Prestasi tersebut terdiri atas satu medali perak, dua medali perunggu, dan enam Medallion for Excellence.
Jawa Timur menyumbangkan satu medali perak dan dua Medallion for Excellence. Edsel Parama Mustapa, alumni SMKS PGRI 3 Malang/Poltek Astra, meraih medali perak pada bidang Software Applications Development.
Sementara itu, Reno Surya Permana dan Rouf Aufa Rifqi, alumni SMKN 1 Jenangan, meraih Medallion for Excellence pada bidang Mechatronics beregu.
Kepala Dinas Pendidikan Jawa Timur Aries Agung Paewai mengapresiasi perjuangan para kompetitor dan expert Indonesia, khususnya tujuh perwakilan Jawa Timur yang mengikuti kompetisi tersebut.
“Alhamdulillah Perwakilan Jawa Timur dari tujuh Orang Perwakilan, tiga di antaranya membawa pulang medali, yakni satu Silver Medal dan dua Medallion for Excellence,” ujar Aries.
Aries mengatakan WorldSkills Competition menjadi ajang bergengsi yang mempertemukan talenta-talenta muda terbaik dari berbagai negara. Kompetisi tersebut menguji kemampuan peserta berdasarkan standar profesi dan industri internasional.
“WorldSkills ini adalah ajang kompetisi keterampilan vokasi tingkat dunia yang mempertemukan talenta-talenta muda terbaik dari berbagai negara untuk menunjukkan kemampuan sesuai standar profesi dan industri internasional,” katanya.
Menurut Aries, capaian di Shanghai perlu menjadi bahan evaluasi untuk memperkuat pendidikan vokasi. Dia mendorong sekolah dan perguruan tinggi terus menyelaraskan kurikulum dengan standar kompetensi internasional agar lulusan Indonesia mampu bersaing secara global.
Aries juga menyoroti peran expert dalam mempersiapkan peserta. Indonesia mengirim 17 expert untuk mendampingi 20 kompetitor pada 17 bidang lomba di WSC Shanghai 2026.
“Expert perannya juga sama pentingnya dengan kompetitor. Seberapa dekat kompetensi expert, trainer, peralatan, metode latihan, dan lingkungan training Indonesia dengan negara-negara yang menjadi benchmark?” ujarnya.
Dia meminta evaluasi pasca-WorldSkills mencakup kemampuan teknis peserta, pemahaman terhadap standar dan sistem kompetisi WorldSkills, kemampuan membaca tren soal, jejaring internasional, serta kemampuan mentransfer pengetahuan kepada trainer di daerah.
Selain itu, Aries mendorong keterlibatan dunia usaha, dunia industri, dan dunia kerja (DUDIKA) secara lebih intensif. Menurutnya, pendidikan vokasi dan persiapan kompetisi tingkat dunia membutuhkan keterlibatan langsung industri.
“WorldSkills ini ajang yang sangat bergengsi. Ini kesempatan bagi peserta menunjukkan kompetensi vokasi. Banyak mata DUDIKA dunia tertuju di sini,” katanya.
Pada WSC Shanghai 2026, Indonesia menempati peringkat ke-19 dari 74 negara peserta. China sebagai tuan rumah menjadi salah satu negara dengan kekuatan utama dalam kompetisi tersebut.
Aries menilai capaian Indonesia perlu disyukuri sekaligus menjadi pijakan untuk meningkatkan mutu pendidikan vokasi. Dia mencatat jumlah bidang yang memperoleh penghargaan internasional meningkat dari sebelumnya empat menjadi sembilan bidang.
Sementara itu, Direktur Jenderal Pendidikan Menengah dan Pendidikan Khusus Kemendikdasmen Tatang Muttaqin mengatakan Indonesia mengirim 20 kompetitor pada 17 bidang, didampingi 17 expert dan technical delegate. Jumlah tersebut menjadi delegasi terbesar Indonesia sepanjang sejarah keikutsertaan dalam WorldSkills.
Para kompetitor menjalani latihan intensif sekitar lima hingga enam bulan sebelum bertanding di Shanghai.
Edsel Parama Mustapa menjadi salah satu peserta yang berhasil meraih penghargaan. Dia mengikuti pelatihan selama enam bulan untuk bidang Software Applications Development dengan mengerjakan soal-soal baru setiap hari.
“Dari awal saya tidak berekspektasi untuk mendapatkan. Tapi alhamdulillah saya bisa dapat,” ungkap Edsel.
Dalam kompetisi tersebut, Edsel mengembangkan aplikasi untuk perangkat Android. Dia mengerjakan proses mulai dari perencanaan, pembuatan, hingga pengujian aplikasi yang dapat diterapkan dalam dunia usaha dan industri.
Sementara itu, Fatima Rani Al Husna Prameswara meraih medali perunggu pada bidang Restaurant Service. Dia menjalani latihan sekitar dua setengah tahun melalui berbagai tahapan, mulai dari Lomba Kompetensi Siswa (LKS), kompetisi tingkat ASEAN, seleksi daerah, seleksi nasional, hingga mengikuti training center WSC Shanghai 2026.
Fatima juga menjalani latihan di lingkungan industri untuk meningkatkan pengalaman berinteraksi dengan tamu dan para profesional di bidang restaurant service.
“Saya selalu berprinsip bahwa saya ingin memberikan yang terbaik. Alhamdulillah, mungkin ini bonus yang saya dapatkan,” ujarnya.
Aries berharap prestasi kontingen Jawa Timur dapat menjadi motivasi untuk terus meningkatkan kualitas pendidikan vokasi. Dia juga mendorong penguatan training center bagi calon kontingen WorldSkills agar peserta memiliki persiapan yang lebih matang.
“Ini bukan bagian akhir dari komitmen kita untuk terus mencerdaskan bangsa dan memajukan bangsa dan negara dengan pendidikan dan prestasi yang kalian dapat,” tutur Aries.
Pengalaman para delegasi Indonesia selama mengikuti kompetisi di Shanghai diharapkan dapat kembali ke sekolah dan lembaga pendidikan vokasi.
Kemendikdasmen juga akan mendiseminasikan pengalaman tersebut melalui penyelarasan LKS, penguatan pusat pelatihan mitra, serta penyusunan buku mengenai pengalaman Indonesia di panggung keterampilan dunia.(Yud)










