HARI POLWAN 1 SEPTEMBER : AKP AA PUTRAWAN DORONG POLISI WANITA TERUS HADIR MENJAWAB TANTANGAN ZAMAN

 

SURABAYA, — Tanggal 1 September menjadi momentum untuk mengenang perjalanan dan peran Polisi Wanita (Polwan) dalam tubuh Kepolisian Negara Republik Indonesia. Kehadiran Polwan bukan sekadar pelengkap dalam organisasi, tetapi telah menjadi bagian penting dalam pelaksanaan berbagai tugas Kepolisian di tengah masyarakat.

 

Seiring perubahan zaman, tantangan yang dihadapi aparat penegak hukum juga semakin beragam. Persoalan keamanan tidak lagi hanya berkaitan dengan kejahatan konvensional, tetapi berkembang ke berbagai bentuk kejahatan yang memanfaatkan teknologi, jaringan sosial, serta perubahan pola kehidupan masyarakat.

 

Dalam situasi tersebut, kemampuan personel Kepolisian untuk beradaptasi menjadi sangat penting. Polwan dituntut mampu menjalankan tugas secara profesional sekaligus memahami karakter masyarakat yang dihadapi.

 

Kasatresnarkoba Polres Pelabuhan Tanjung Perak Surabaya, AKP AA Putrawan, SH., MH., mengatakan bahwa momentum Hari Polwan hendaknya menjadi pengingat bahwa tugas Kepolisian membutuhkan kemampuan, keberanian, kedisiplinan, dan integritas.

 

“Tantangan Kepolisian ke depan semakin kompleks. Karena itu, setiap personel harus terus meningkatkan kemampuan, menjaga integritas dan mampu menyesuaikan diri dengan perkembangan masyarakat. Polwan memiliki ruang yang luas untuk terus memberikan kontribusi dalam berbagai bidang tugas Kepolisian,” ujar AKP AA Putrawan.

 

Menurutnya, salah satu kekuatan dalam pelayanan Kepolisian adalah kemampuan membangun komunikasi yang baik dengan masyarakat. Pendekatan yang tepat dapat membantu aparat memahami persoalan secara lebih mendalam, terutama ketika berhadapan dengan perempuan, anak-anak, keluarga korban, maupun kelompok masyarakat yang membutuhkan perhatian khusus.

 

Dalam penanganan berbagai persoalan hukum, pendekatan tersebut juga harus tetap berjalan beriringan dengan ketegasan dalam menegakkan aturan.

 

“Penegakan hukum membutuhkan ketegasan, tetapi pelayanan kepada masyarakat membutuhkan empati. Keduanya harus berjalan seimbang. Polisi harus mampu memberikan kepastian hukum sekaligus menjaga agar masyarakat merasa dilindungi,” jelasnya.

 

POLWAN DAN TANTANGAN PEMBERANTASAN NARKOBA

 

Sebagai pejabat yang bertugas dalam pemberantasan narkotika, AKP AA Putrawan melihat bahwa ancaman narkoba merupakan salah satu persoalan yang membutuhkan perhatian serius dari semua pihak.

 

Peredaran narkotika dapat menyentuh berbagai lapisan masyarakat dan tidak mengenal batas usia maupun latar belakang. Karena itu, pemberantasannya tidak cukup hanya mengandalkan tindakan penegakan hukum setelah terjadi tindak pidana.

 

Upaya pencegahan, edukasi, pengawasan lingkungan, serta keterlibatan keluarga dan masyarakat menjadi bagian yang tidak terpisahkan dalam memutus mata rantai penyalahgunaan narkotika.

 

“Pemberantasan narkoba harus dilakukan dari hulu sampai hilir. Penindakan terhadap jaringan peredaran tetap diperlukan, tetapi pencegahan juga harus diperkuat. Generasi muda harus mendapatkan pemahaman yang benar mengenai bahaya narkotika sejak dini,” kata AKP AA Putrawan.

 

Ia menambahkan, masyarakat memiliki peran penting dalam membantu Kepolisian. Informasi mengenai dugaan peredaran narkotika di lingkungan sekitar dapat menjadi bagian dari upaya bersama untuk mencegah semakin luasnya dampak penyalahgunaan narkoba.

 

MEMBANGUN KEPERCAYAAN MASYARAKAT

 

Di tengah perkembangan teknologi informasi dan media sosial, kinerja Kepolisian juga semakin mudah mendapat perhatian publik. Setiap tindakan personel dapat menjadi sorotan masyarakat dan membentuk persepsi terhadap institusi.

 

Karena itu, menurut AKP AA Putrawan, profesionalisme tidak cukup hanya ditunjukkan melalui keberhasilan dalam mengungkap kasus. Cara personel berkomunikasi, memberikan pelayanan, menghormati masyarakat, serta menjalankan prosedur juga menjadi bagian penting dalam membangun kepercayaan publik.

 

“Kepercayaan masyarakat harus dijaga melalui tindakan nyata. Setiap anggota harus memahami bahwa seragam yang dikenakan membawa tanggung jawab dan kehormatan institusi. Karena itu, bekerja sesuai aturan dan memberikan pelayanan yang baik merupakan bagian dari pengabdian,” tuturnya.

 

Ia berharap momentum Hari Polwan dapat menjadi ruang untuk memperkuat semangat seluruh personel dalam menghadapi tantangan tugas yang semakin dinamis.

 

Bagi Polwan, ruang pengabdian juga semakin terbuka luas. Kemampuan profesional, kepemimpinan, ketelitian, serta pendekatan komunikasi yang dimiliki dapat terus dikembangkan untuk mendukung berbagai fungsi Kepolisian.

 

PESAN AKP AA PUTRAWAN

 

Menutup keterangannya, AKP AA Putrawan menyampaikan pesan kepada seluruh Polisi Wanita agar terus menjaga semangat dalam menjalankan tugas dan tidak berhenti meningkatkan kemampuan diri.

 

“Jadikan setiap tugas sebagai kesempatan untuk memberikan manfaat. Terus belajar, tingkatkan profesionalisme, jaga integritas dan tetap dekat dengan masyarakat. Semoga seluruh Polwan mampu menjalankan tugas dengan penuh tanggung jawab serta memberikan kontribusi terbaik bagi bangsa dan negara,” pungkasnya.

 

Momentum 1 September pada akhirnya bukan hanya menjadi penanda sebuah peringatan, tetapi juga menjadi refleksi terhadap perjalanan panjang pengabdian Polisi Wanita. Di tengah tuntutan masyarakat yang terus berkembang, Polwan diharapkan mampu mengambil peran semakin strategis dalam menghadirkan Kepolisian yang profesional, responsif, tegas dalam penegakan hukum, serta tetap mengedepankan sisi kemanusiaan.

 

Selamat Hari Polisi Wanita. Terus berkarya, terus mengabdi, dan terus menjadi bagian dari perubahan positif bagi masyarakat dan institusi Polri.(Red)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *