Sibolga — Kondisi memprihatinkan yang ditemukan di SMA Negeri 3 Sibolga kian menuai sorotan. Tidak hanya dari masyarakat, sejumlah pemerhati dunia pendidikan kini ikut angkat bicara menanggapi temuan terkait buruknya penataan lingkungan sekolah hingga penyimpanan dokumen penting di ruang yang tidak semestinya.
Pantauan di lokasi pada Selasa 21/04/206 menunjukkan halaman sekolah yang tidak terawat, dengan rumput liar dan material bekas yang dibiarkan berserakan. Kondisi ini mencerminkan lemahnya perhatian terhadap kebersihan dan kerapian, dua aspek mendasar dalam menciptakan lingkungan belajar yang sehat dan nyaman bagi siswa.
Akses menuju bangunan juga tampak kurang tertata. Jalur yang tidak rapi serta sudut-sudut yang terkesan kumuh memperkuat dugaan bahwa pemeliharaan fasilitas tidak berjalan optimal. Padahal, lingkungan fisik sekolah memiliki pengaruh langsung terhadap psikologis dan semangat belajar peserta didik.
Sorotan paling tajam tertuju pada temuan di dalam ruangan bertuliskan “Toilet Khusus Guru”. Ruangan tersebut justru dialihfungsikan menjadi tempat penyimpanan dokumen sekolah. Tumpukan berkas terlihat disimpan tanpa sistem yang jelas, bahkan bercampur dengan alat kebersihan dan barang lainnya.

Seorang pemerhati pendidikan di Sumatera Utara, Dr. Andi Prasetyo, menilai kondisi ini sebagai bentuk kelalaian serius dalam tata kelola sekolah. “Ini bukan sekadar masalah teknis, tetapi menunjukkan lemahnya manajemen dan pengawasan. Dokumen sekolah itu aset penting, tidak boleh disimpan di tempat yang berpotensi merusak atau mencemari arsip,” ujarnya saat dimintai tanggapan.
Ia juga menambahkan bahwa kondisi tersebut bisa berdampak pada aspek yang lebih luas, termasuk transparansi administrasi. “Kalau pengelolaan arsip saja tidak tertib, publik wajar mempertanyakan bagaimana pengelolaan lainnya, termasuk keuangan dan program sekolah,” tegasnya.
Menurutnya, dinas pendidikan setempat harus segera melakukan audit menyeluruh. “Perlu ada evaluasi total, bukan hanya pembenahan fisik. Kepala sekolah dan jajaran manajemen harus diminta pertanggungjawaban. Ini menyangkut kredibilitas institusi pendidikan,” tambahnya.
Sementara itu, hingga berita ini diturunkan, pihak SMA Negeri 3 Sibolga belum memberikan keterangan resmi terkait kondisi tersebut. Tidak adanya klarifikasi justru menambah spekulasi di tengah masyarakat.
Kasus ini menjadi pengingat bahwa kualitas pendidikan tidak hanya ditentukan oleh kurikulum dan tenaga pengajar, tetapi juga oleh tata kelola yang baik dan lingkungan yang layak. Jika pembiaran terus terjadi, maka yang dipertaruhkan bukan hanya citra sekolah, melainkan masa depan para siswa yang bergantung pada sistem pendidikan yang seharusnya mereka percayai.
Hingga berita ini di terbitkan pihak sekolah belum memberi tanggapan.






