SURABAYA β Film drama berjudul “Andai Waktu Bisa Diulang Kembali” resmi diputar di CGV BG Junction Surabaya pada Selasa (28/07/2026). Film produksi FMM Studios dan Langit Pictures Indonesia, yang dipersembahkan berdasarkan kisah orisinal karya M. Ali Ghifari, menghadirkan cerita emosional yang sarat pesan moral tentang cinta, keluarga, perjuangan hidup, dan konsekuensi dari setiap pilihan.
Film ini dibintangi oleh Davina Karamoy dan Farhan Rasyid sebagai pemeran utama, serta didukung oleh Vonny Anggraini, Nadzira Shafa, Bismo Satrio, Kenji Sato, Mazaki Ahmad, Tri Indah Seruni, Pipien Putri, Neni Noor, dan sejumlah aktor maupun aktris lainnya.
Kisah berpusat pada Dinar, seorang mahasiswi yang bertemu dengan seorang pria bernama Fais. Pertemuan keduanya terjadi secara sederhana ketika mereka sama-sama menunggu hujan reda di depan kampus. Dari berbagi payung hingga berjalan bersama memasuki lingkungan kampus, benih-benih persahabatan mulai tumbuh dan perlahan berkembang menjadi kedekatan yang penuh makna.
Seiring berjalannya waktu, hubungan Dinar dan Fais semakin erat. Fais bahkan berkunjung ke rumah Dinar bersama beberapa rekannya. Namun, suasana hangat tersebut berubah ketika ibu Dinar tiba-tiba terjatuh di depan rumah akibat mengalami serangan penyakit hingga harus dilarikan ke rumah sakit. Dokter yang menangani menyampaikan bahwa kondisi kesehatan sang ibu membutuhkan perhatian, kasih sayang, dan perawatan yang maksimal dari keluarganya.
Dalam perjalanan cerita, ibu Dinar kemudian mengungkapkan masa lalunya yang penuh perjuangan. Ia pernah menghadapi tekanan ekonomi yang sangat berat hingga terpaksa berutang demi mempertahankan kehidupan keluarganya. Pengakuan tersebut menjadi beban emosional tersendiri bagi Dinar yang saat itu juga tengah mengalami kesulitan membayar tunggakan biaya kuliah.
Demi mempertahankan pendidikannya, Dinar bekerja di sebuah restoran. Di tempat itulah konflik utama mulai muncul. Pemilik restoran menawarkan bantuan berupa pinjaman uang dengan syarat yang tidak manusiawi. Dalam situasi ekonomi yang terdesak dan tanpa banyak pilihan, Dinar menjadi korban kekerasan seksual oleh atasannya. Adegan tersebut menjadi salah satu bagian paling emosional dalam film, sekaligus menggambarkan realitas pahit yang masih dapat terjadi di tengah kehidupan masyarakat.
Sementara itu, Fais tetap memandang Dinar sebagai sosok yang ingin ia jadikan pasangan hidup. Ia bekerja keras untuk membangun masa depan yang lebih baik hingga memperoleh pekerjaan yang layak dan berkesempatan menjalin kerja sama dengan perusahaan asing. Harapan untuk membangun kehidupan bersama Dinar pun sempat terbuka.
Namun, kehidupan tidak selalu berjalan sesuai harapan. Takdir membawa jalan yang berbeda. Fais akhirnya menikah dengan perempuan lain, sementara Dinar harus melanjutkan hidup dengan luka dan pengalaman pahit yang membentuk ketegaran dirinya.
Film “Andai Waktu Bisa Diulang Kembali” tidak hanya menyajikan kisah cinta yang mengharukan, tetapi juga mengangkat isu sosial mengenai kemiskinan, ketimpangan ekonomi, pengorbanan seorang ibu, kekerasan terhadap perempuan, hingga pentingnya menjaga nilai-nilai kemanusiaan dalam menghadapi tekanan hidup.
Usai menyaksikan film tersebut, Ghonys menyampaikan bahwa cerita yang diangkat menjadi refleksi nyata bagi kehidupan masyarakat.
“Film ini merupakan cermin kehidupan yang ada di tengah masyarakat. Jangan hanya mengejar materi semata. Ambillah pelajaran dari setiap peristiwa yang terjadi, karena kebahagiaan sejati tidak selalu diukur dari harta, melainkan dari kasih sayang, kejujuran, dan pilihan hidup yang kita ambil,” ujar Ghonys.
Dengan alur cerita yang menyentuh, konflik yang dekat dengan realitas kehidupan, serta pesan moral yang kuat, “Andai Waktu Bisa Diulang Kembali” diharapkan mampu memberikan inspirasi sekaligus menjadi pengingat bahwa setiap keputusan dalam hidup memiliki konsekuensi, dan tidak semua hal dapat diperbaiki ketika waktu telah berlalu.(Red)











