Surabaya — 30 November 2025 Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya semakin serius menanggapi ancaman konten digital berbahaya yang dapat memengaruhi perkembangan karakter pelajar. Dalam peringatan Hari Anak Internasional 2025, Pemkot secara resmi meluncurkan langkah strategis untuk memperkuat pengawasan penggunaan media digital di kalangan siswa SD dan SMP.
Langkah ini menjadi bagian dari upaya besar kota untuk menekan dampak negatif game daring bernuansa kekerasan, yang dinilai semakin mudah diakses oleh anak-anak. Kolaborasi lintas lembaga, termasuk keterlibatan Densus 88, BNN, Kepolisian, dan Komnas Perlindungan Anak, menjadi pilar utama dalam strategi baru tersebut.
Wali Kota Eri: Karakter Anak Bisa Terkontaminasi Game Kekerasan
Wali Kota Surabaya, Eri Cahyadi, menegaskan bahwa game kekerasan mampu memengaruhi pola pikir anak secara signifikan. Ia menyoroti sejumlah game yang tidak hanya menampilkan aksi brutal, tetapi juga menyisipkan perilaku negatif seperti perampokan, penggunaan senjata, hingga penyalahgunaan zat terlarang dalam alur permainannya.
“Game kekerasan ini secara perlahan dapat mengubah cara berpikir anak dan membentuk karakter yang tidak baik, karena mereka terbiasa melihat tindakan buruk sebagai sesuatu yang normal dalam permainan,” ujar Eri.
Wali kota juga menekankan pentingnya mengembalikan fokus anak pada interaksi sosial, pembentukan akhlak, serta pembelajaran karakter positif yang sejalan dengan budaya Kota Surabaya.
Satgas Sekolah Diperkuat, Guru BK Jadi Garda Terdepan
Sebagai tindak lanjut, Pemkot melalui Dinas Pendidikan (Dispendik) mewajibkan seluruh sekolah membentuk dan menguatkan Satuan Tugas (Satgas) Pengawasan Perilaku Digital. Satgas ini diisi oleh Guru Bimbingan Konseling (BK) yang bertanggung jawab memonitor perilaku siswa, termasuk aktivitas digital mereka.
“Anak-anak harus punya ruang aman untuk bercerita dan meminta bantuan. Semakin kuat satgas sekolah, semakin cepat kita bisa mendeteksi jika ada siswa yang mulai terpengaruh oleh konten digital negatif,” ujar Kepala Dispendik Surabaya, Yusuf Masruh.
Pembentukan satgas ini juga selaras dengan penguatan Tim Pencegahan dan Penanganan Kekerasan (TPPKS) yang selama ini mengawal perlindungan anak di sekolah.
Kolaborasi dengan Orang Tua: Kunci Keberhasilan Program
Pemkot menegaskan bahwa pengawasan digital tidak bisa dilakukan sekolah sendiri. Orang tua memiliki peran penting dalam memonitor penggunaan gawai di rumah. Yusuf menekankan perlunya rutinitas yang jelas, seperti jadwal belajar, istirahat, dan aktivitas rekreatif yang sehat.
“Orang tua harus tahu apa yang dimainkan anak, kapan waktunya bermain, dan bagaimana menggunakan internet secara aman. Saat ini banyak game edukatif yang bisa diarahkan untuk menggantikan game kekerasan,” tuturnya.
Pemkot juga mendorong orang tua untuk mendampingi anak dalam menggunakan media digital, agar potensi paparan konten berbahaya dapat diminimalisir sejak dini.
Komitmen Surabaya: Digital Aman untuk Semua Pelajar
Melalui rangkaian program ini, Pemkot Surabaya berupaya menciptakan lingkungan digital yang lebih aman dan sehat bagi generasi muda. Selain pengawasan langsung, kota juga berencana memperluas edukasi literasi digital bekerja sama dengan aparat keamanan serta lembaga perlindungan anak.
Dengan kolaborasi yang kuat antara pemerintah, sekolah, orang tua, dan aparat penegak hukum, Surabaya menegaskan komitmennya: anak-anak harus tumbuh cerdas, berkarakter kuat, dan terlindungi dari ancaman digital yang mengintai.(Yud)












