Karang Intan, Catatanpublik.com –
Warga binaan Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Narkotika Kelas IIA Karang Intan mempelajari sejarah berdirinya Bani Umayyah di Damaskus melalui pembelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI) Program Pendidikan Kesetaraan Paket B di Ruang Belajar Lapas, Senin (12/10/2026). Ardian, petugas Lapas sekaligus tutor perpanjangan dari Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) Annisa Kecamatan Karang Intan, membimbing warga binaan untuk memperluas pengetahuan tentang sejarah Islam sekaligus memahami nilai persatuan, kepemimpinan, dan tanggung jawab dalam kehidupan sehari-hari.
Kegiatan tersebut merupakan bagian dari penyelenggaraan pendidikan kesetaraan yang dilaksanakan Lapas Narkotika Kelas IIA Karang Intan bersama PKBM Annisa Kecamatan Karang Intan. Melalui program ini, warga binaan memperoleh kesempatan untuk melanjutkan pendidikan dan mengembangkan pengetahuan selama menjalani masa pidana sebagai bekal untuk melanjutkan kehidupan setelah kembali ke masyarakat.
Dalam pembelajaran tersebut, Ardian menyampaikan materi mengenai berdirinya Bani Umayyah di Damaskus pada 661–750 Masehi. Ia menjelaskan peran Mu’awiyah bin Abu Sufyan sebagai pendiri sekaligus khalifah pertama Bani Umayyah serta peristiwa Amul Jama’ah pada 41 Hijriah atau 661 Masehi, yang menandai berakhirnya perselisihan kepemimpinan setelah Hasan bin Ali menyerahkan kepemimpinan kepada Mu’awiyah demi menjaga persatuan umat Islam.
Materi berlanjut pada perubahan sistem pemerintahan menjadi monarki turun-temurun dan pemindahan pusat pemerintahan dari Madinah ke Damaskus, Suriah. Penjelasan tersebut membantu warga binaan mengenali perkembangan pemerintahan Islam pada masa itu serta memahami latar belakang berbagai perubahan yang memengaruhi perjalanan sejarahnya.
Tutor PAI, Ardian, menyampaikan bahwa pembelajaran sejarah Islam memberikan kesempatan kepada warga binaan untuk memperluas wawasan sekaligus memahami nilai-nilai yang relevan dengan kehidupan sehari-hari.
“Melalui materi sejarah Bani Umayyah, warga binaan dapat mempelajari perjalanan peradaban Islam sekaligus memahami pentingnya persatuan, kepemimpinan, dan tanggung jawab. Kami berharap pengetahuan ini menambah wawasan mereka dan menjadi bahan refleksi untuk mempertimbangkan setiap keputusan dengan bijak serta menghargai orang lain dalam kehidupan sehari-hari,” ujar Ardian.
Salah seorang peserta Paket B berinisial NR menyampaikan bahwa materi tersebut menambah pengetahuannya mengenai sejarah Islam dan memberikan pelajaran yang dapat diterapkan dalam kehidupan.
“Saya jadi lebih memahami sejarah berdirinya Bani Umayyah dan pentingnya persatuan dalam kehidupan. Dari pembelajaran ini, saya juga belajar bahwa setiap keputusan perlu dipertimbangkan dengan baik. Semoga ilmu yang saya dapatkan bisa menambah pengetahuan dan menjadi bekal ketika kembali ke masyarakat,” ungkap NR.
Penyelenggaraan pendidikan kesetaraan ini menjadi salah satu upaya Lapas Narkotika Kelas IIA Karang Intan dalam mendukung pemenuhan hak pendidikan warga binaan. Melalui pembelajaran PAI, warga binaan tidak hanya memperoleh pengetahuan sejarah Islam, tetapi juga kesempatan untuk memperluas pemahaman keagamaan dan mengambil pelajaran positif yang relevan dengan kehidupan bermasyarakat.
Lapas Narkotika Kelas IIA Karang Intan terus mendorong pelaksanaan pembinaan yang mendukung peningkatan kualitas diri warga binaan. Dengan mengikuti pendidikan secara berkelanjutan, warga binaan diharapkan dapat mengembangkan pengetahuan, melanjutkan pendidikan, dan mempersiapkan diri untuk kembali menjalani kehidupan di tengah masyarakat serta berkontribusi secara positif setelah menyelesaikan masa pidana. (nta).






