Penutupan THR Surabaya Dinilai Tinggalkan Derita Panjang bagi Seniman

Cacatanpublik.com – Penutupan permanen kawasan Taman Hiburan Rakyat (THR) dan Taman Remaja Surabaya (TRS) sejak 2018 dinilai meninggalkan derita panjang bagi para seniman dan seniwati tradisional di Kota Surabaya.

Kontributor budaya Eko Gagak menyebut banyak pelaku seni kehilangan ruang hidup,

panggung pertunjukan, hingga sumber penghasilan setelah kawasan legendaris tersebut ditutup dan dibongkar.

Menurut Eko Gagak, THR selama puluhan tahun menjadi pusat aktivitas seni rakyat seperti ludruk, ketoprak, Srimulat, musik tradisional, hingga berbagai pertunjukan budaya khas Surabaya.

“Penutupan THR membuat banyak seniman kehilangan tempat berkarya dan mengalami kesulitan ekonomi berkepanjangan,” ujar Eko Gagak dalam keterangannya.

Ia menjelaskan bahwa setelah kawasan THR ditutup, para seniman mulai meninggalkan lokasi karena tidak lagi memiliki panggung tetap untuk tampil secara rutin.

Konflik juga sempat terjadi ketika Pemerintah Kota Surabaya mengambil alat musik gamelan dari kawasan THR.

Menurut Eko Gagak, kondisi tersebut menjadi pukulan berat bagi komunitas seniman tradisional yang selama ini menggantungkan kehidupan dari aktivitas pertunjukan di kawasan itu.

Pemerintah Kota Surabaya sempat menawarkan kawasan Balai Pemuda sebagai tempat alternatif pertunjukan.

Namun, para seniman menilai suasana dan fasilitas di lokasi tersebut tidak mampu menggantikan atmosfer budaya yang selama ini tumbuh di THR.

“THR bukan sekadar tempat hiburan, tetapi rumah budaya dan ruang hidup para seniman rakyat Surabaya,” katanya.

Eko Gagak juga menyoroti pembongkaran sejumlah gedung kesenian seperti Gedung Pringgodani, Gedung Ketoprak, dan Gedung Srimulat yang dianggap memiliki nilai sejarah penting bagi perkembangan seni pertunjukan di Surabaya.

Ia menilai pembongkaran tersebut memunculkan penilaian pemborosan anggaran karena sejumlah bangunan sebenarnya masih dinilai kokoh dan layak direnovasi.

Meski Pemerintah Kota Surabaya beralasan revitalisasi dilakukan untuk membangun kawasan yang lebih modern dan representatif, Eko Gagak menyebut perhatian terhadap nasib para seniman tradisional juga harus menjadi prioritas utama.

Ia mengungkapkan sebagian seniman memang mendapatkan bantuan fasilitas rumah susun dari pemerintah kota. Namun, banyak pelaku seni lain masih menghadapi persoalan ekonomi akibat hilangnya ruang pertunjukan tetap.

Menurut Eko Gagak, para seniman tradisional telah berkontribusi besar menjaga identitas budaya Surabaya sehingga layak memperoleh perlindungan dan dukungan yang lebih nyata dari pemerintah.

Ia juga mengajak masyarakat Surabaya dan Jawa Timur untuk terus mengawal perkembangan kawasan THR dan TRS agar sejarah seni rakyat tidak hilang di tengah pembangunan kota modern.

“THR harus tetap dikenang sebagai bagian penting sejarah budaya dan kehidupan seniman rakyat Surabaya,” pungkasnya.(Yud)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *