Mengolah Humor, Mengasah Nalar: Pembelajaran Bahasa Indonesia Paket C bagi Warga Binaan Karang Intan

Karang Intan, Catatanpublik.com –

Pembelajaran Bahasa Indonesia tidak hanya mengasah kemampuan berbahasa, tetapi juga melatih warga binaan mengembangkan gagasan, berpikir kritis, dan menyampaikan pendapat secara santun. Pada Selasa (6/10/2026), warga binaan Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Narkotika Kelas IIA Karang Intan mengikuti pembelajaran Bahasa Indonesia Program Pendidikan Kesetaraan Paket C di Ruang Belajar Lapas dengan materi penyampaian kritik sosial melalui teks anekdot dan lawakan tunggal (stand-up comedy). Melalui kegiatan ini, Lapas Narkotika Kelas IIA Karang Intan mendorong warga binaan mengembangkan kreativitas dan keterampilan berkomunikasi sebagai bagian dari proses pembinaan.

Muhammad Yoshfian Rahman, petugas Lapas Narkotika Kelas IIA Karang Intan yang bertugas sebagai tutor perpanjangan dari Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) Annisa, Kecamatan Karang Intan, memandu pembelajaran dengan materi penyampaian kritik sosial melalui teks anekdot dan lawakan tunggal (stand-up comedy). Melalui materi tersebut, warga binaan mempelajari cara mengembangkan gagasan, merangkai cerita, serta memilih kata-kata yang tepat agar pesan dapat disampaikan secara menarik tanpa mengabaikan kesantunan.

Pembelajaran ini mengajak warga binaan memahami bahwa humor dapat digunakan untuk menggambarkan persoalan di lingkungan sosial dan menyampaikan pandangan dari sudut yang berbeda. Dalam menyusun teks anekdot maupun memahami lawakan tunggal, ketepatan memilih kata, alur penyampaian, dan pesan yang ingin disampaikan menjadi hal penting. Dengan memahami unsur-unsur tersebut, warga binaan dapat belajar menyampaikan kritik secara kreatif tanpa merendahkan atau menyakiti orang lain.

Muhammad Yoshfian Rahman menjelaskan bahwa pembelajaran Bahasa Indonesia tidak hanya berkaitan dengan kemampuan menyusun kalimat, tetapi juga melatih warga binaan mengolah pemikiran dan menyampaikan gagasan secara bertanggung jawab.

“Melalui materi ini, warga binaan dapat belajar mengolah gagasan menjadi cerita yang menarik sekaligus bermakna. Teks anekdot dan lawakan tunggal mengajarkan bahwa kritik dapat disampaikan secara kreatif tanpa merendahkan orang lain. Saya berharap mereka dapat menerapkan kemampuan tersebut untuk berkomunikasi dengan lebih baik dan menyampaikan pendapat secara bertanggung jawab,” ujar Yoshfi.

Salah seorang warga binaan berinisial ZF mengungkapkan bahwa pembelajaran tersebut memberinya pemahaman baru tentang penggunaan humor dalam menyampaikan pendapat. Ia memahami bahwa cara seseorang menyampaikan pesan turut memengaruhi bagaimana orang lain menerima dan memaknainya.

“Saya mendapat pelajaran bahwa menyampaikan pendapat perlu memikirkan kata-kata yang digunakan dan perasaan orang yang mendengarkan. Humor bisa membuat pesan lebih menarik, tetapi isinya tetap harus bermanfaat dan tidak menyakiti orang lain. Menurut saya, ilmu ini berguna untuk berkomunikasi lebih baik dalam kehidupan sehari-hari,” ungkap ZF.

Pembelajaran Bahasa Indonesia melalui Program Pendidikan Kesetaraan Paket C memberikan manfaat yang melampaui penguasaan materi di kelas. Kemampuan mengembangkan gagasan, memahami persoalan sosial, berpikir kritis, dan menyampaikan pendapat secara santun merupakan keterampilan yang dapat digunakan warga binaan dalam kehidupan sehari-hari. Keterampilan tersebut juga menjadi bekal untuk menjalin hubungan yang baik dengan keluarga dan masyarakat setelah menyelesaikan masa pidana.

Melalui kegiatan pendidikan, Lapas Narkotika Kelas IIA Karang Intan terus memberikan kesempatan kepada warga binaan untuk memperoleh pengetahuan dan mengembangkan potensi diri. Pembelajaran ini menjadi bagian dari upaya pembinaan yang membantu warga binaan meningkatkan kemampuan intelektual, kreativitas, dan keterampilan berkomunikasi sebagai persiapan untuk kembali menjalani kehidupan di tengah masyarakat. (nta).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed