Karang Intan, Catatanpublik.com –
Semangat kemandirian kembali terpancar dari Warga Binaan Lembaga Pemasyarakatan Narkotika Kelas IIA Karang Intan (Lapas) Narkotika Kelas IIA Karang Intan. Melalui Program Pembinaan Kemandirian di Sarana Asimilasi dan Edukasi (SAE), para Warga Binaan berhasil panen terung sebanyak 50 kilogram, Kamis (27/2).
Panen tersebut menjadi bukti nyata bahwa pembinaan di dalam Lapas tidak hanya berorientasi pada pembinaan mental dan spiritual, tetapi juga pada penguatan keterampilan produktif yang bermanfaat saat kembali ke tengah masyarakat.
Dengan memanfaatkan lahan SAE secara optimal, para Warga Binaan secara konsisten merawat tanaman terung mulai dari tahap pembibitan, penanaman, perawatan hingga masa panen.
Kepala Lapas Narkotika Karang Intan, Yugo Indra Wicaksi, menyampaikan bahwa kegiatan ini merupakan bagian dari komitmen Lapas dalam membangun kemandirian dan memberikan bekal nyata bagi Warga Binaan.
“Program pembinaan kemandirian ini bukan sekadar aktivitas rutin, tetapi proses pembelajaran yang membentuk karakter, tanggung jawab, dan etos kerja. Kami ingin memastikan bahwa ketika mereka kembali ke masyarakat, mereka memiliki keterampilan yang bisa dimanfaatkan untuk kehidupan yang lebih baik,” ujar Yugo.
Ia menambahkan, keberhasilan panen 50 kilogram terung ini menunjukkan bahwa dengan pendampingan dan kesempatan yang tepat, Warga Binaan mampu menghasilkan produk pertanian yang berkualitas dan bernilai ekonomi.
Sementara itu, salah satu Warga Binaan yang terlibat aktif dalam kegiatan tersebut, Abdul, mengungkapkan rasa syukur dan kebanggaannya.
“Kami belajar banyak di sini, bukan hanya cara menanam, tapi juga tentang kesabaran dan kerja sama. Hasil panen ini membuat kami merasa percaya diri bahwa kami juga bisa menghasilkan sesuatu yang bermanfaat,” tuturnya.
Kasi Kegiatan Kerja (Giatja), Indra, menjelaskan bahwa proses budidaya dilakukan dengan pengawasan dan pembinaan berkelanjutan agar hasil yang diperoleh maksimal.
“Kami terus memberikan arahan teknis mulai dari pengolahan tanah, pemupukan, hingga pengendalian hama. Tujuannya agar Warga Binaan benar-benar memahami proses pertanian secara utuh, sehingga keahlian ini dapat mereka terapkan setelah bebas nanti,” jelasnya.
Hasil panen terung tersebut selanjutnya dimanfaatkan untuk mendukung kebutuhan dapur Lapas serta menjadi bagian dari upaya penguatan ketahanan pangan internal. (ysf)










