Karang Intan, Catatanpublik.com –
Melatih gerak tubuh, mengolah suara, dan menampilkan ekspresi menjadi aktivitas 18 warga binaan Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Narkotika Kelas IIA Karang Intan dalam pembelajaran Seni Budaya Program Pendidikan Kesetaraan Paket B. Mereka mempraktikkan dasar pemeranan melalui materi seni teater untuk membangun keberanian tampil di depan orang lain, Rabu (19/08/2026).
Tidak langsung berkutat dengan naskah atau dialog, kegiatan di Ruang Kunjungan Lapas Narkotika Kelas IIA Karang Intan diawali dengan pengenalan cara seorang pemeran menggunakan tubuh dan suara untuk menyampaikan karakter. Nurbaiti, petugas Lapas sekaligus tutor Program Pendidikan Kesetaraan Paket B yang bekerja sama dengan Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) Annisa Kecamatan Karang Intan, mengarahkan peserta memahami dasar-dasar pemeranan.
Peserta kemudian diajak menjaga fokus melalui latihan konsentrasi. Setelah itu, mereka mengeksplorasi gerakan sederhana untuk melatih keluwesan tubuh, mencoba mengatur tinggi-rendah suara, serta memahami posisi tubuh ketika berada di ruang pentas. Setiap kegiatan dilakukan untuk mengenalkan cara menggabungkan gerak, suara, dan ekspresi dalam pemeranan.
Saat praktik berlangsung, warga binaan mulai mencoba menampilkan ekspresi melalui perubahan sikap tubuh dan suara. Beberapa peserta mengulang gerakan atau cara penyampaian setelah memperoleh arahan dari tutor. Situasi ini membuat pembelajaran tidak hanya berlangsung satu arah, tetapi memberi kesempatan kepada peserta untuk mencoba dan memperbaiki penampilannya.
Nurbaiti mengatakan latihan pemeranan dapat menjadi sarana bagi warga binaan untuk melatih keberanian dan kemampuan mengekspresikan diri.
“Dalam teater, pemeran perlu mampu mengendalikan konsentrasi, tubuh, suara, dan ruang. Ketika semua unsur itu dilatih bersama, peserta tidak hanya belajar seni, tetapi juga belajar berani tampil dan menyampaikan ekspresi dengan lebih percaya diri,” ujar Nurbaiti.
Pengalaman tersebut dirasakan FM, salah satu warga binaan yang mengikuti pembelajaran. Ia mengaku latihan membuatnya menyadari bahwa ekspresi dalam teater tidak hanya bergantung pada kata-kata.
“Awalnya saya merasa canggung karena harus menggunakan gerakan dan suara secara bersamaan. Setelah mencoba, saya jadi tahu bahwa cara berdiri, bergerak, dan mengatur suara juga bisa menunjukkan ekspresi,” ujar FM.
Bagi peserta, pembelajaran teater menjadi kesempatan untuk mencoba cara berkomunikasi yang berbeda. Konsentrasi membantu mereka menjaga fokus, sementara olah tubuh dan suara memberi ruang untuk menyampaikan emosi tanpa hanya mengandalkan dialog.
Kegiatan ini sekaligus memperkaya pembelajaran Seni Budaya dalam Program Pendidikan Kesetaraan Paket B. Warga binaan memperoleh pengalaman belajar yang melibatkan praktik langsung dan mendorong mereka mengenali kemampuan diri melalui aktivitas seni.
Melalui pengalaman tampil dan berekspresi, warga binaan tidak hanya mengenal dasar pemeranan, tetapi juga belajar menghadapi rasa canggung, mengendalikan diri, serta berkomunikasi dengan lebih berani. Pembelajaran tersebut menjadi bagian dari proses pengembangan diri selama menjalani masa pembinaan. (nta).









