Banjarmasin, Catatanpublik.com –
Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIA Banjarmasin menerima tim dari Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi Kalimantan Selatan untuk melaksanakan pengawasan dan pengambilan sampel Pangan Segar Asal Tumbuhan (PSAT) pada budidaya tanaman kangkung, Senin (19/10). Kegiatan ini merupakan bagian dari proses sertifikasi Prima 3 bagi produk pertanian yang dikembangkan Lapas Banjarmasin.
Tim yang dipimpin Desya Medinasari Fathullah, S.TP., melakukan pemeriksaan terhadap produk kangkung sekaligus mengambil sampel untuk pengujian laboratorium. Sampel ditimbang dengan berat sekitar 800–1.000 gram sebelum dikirim pada hari yang sama untuk menjalani pengujian lebih lanjut.
Proses pengawasan dan pengambilan sampel tersebut didampingi oleh Kasubsi Bimbingan Kerja dan Pengelolaan Hasil Kerja, Obi Noverianda, bersama petugas Seksi Kegiatan Kerja (Giatja), Muttaqin Akbar.
Obi Noverianda menyampaikan bahwa pengawasan dan pengujian laboratorium menjadi tahapan penting untuk mendukung pemenuhan standar keamanan dan mutu pangan dalam proses sertifikasi Prima 3.
“Pengawasan dan pengambilan sampel ini merupakan tahapan penting dalam proses sertifikasi Prima 3. Kami berharap budidaya kangkung di Lapas Banjarmasin dapat memenuhi standar keamanan dan mutu pangan sehingga menghasilkan produk pertanian yang berkualitas,” ujar Obi Noverianda.
Secara terpisah Kepala Lapas Kelas IIA Banjarmasin, Akhmad Herriansyah, menegaskan komitmen jajarannya untuk terus mengembangkan budidaya pertanian yang berkualitas sekaligus memperkuat program pembinaan kemandirian bagi warga binaan.
“Kami berkomitmen mengembangkan budidaya pertanian yang memenuhi standar keamanan dan mutu pangan. Upaya ini juga menjadi bagian dari pembinaan kemandirian untuk membekali warga binaan dengan keterampilan yang bermanfaat setelah menyelesaikan masa pembinaan,” ujar Akhmad Herriansyah.
Sementara itu, Desya Medinasari Fathullah menjelaskan bahwa sampel yang diambil harus memenuhi kebutuhan berat yang ditentukan sebelum dikirim ke laboratorium.
“Produk yang kami periksa hari ini akan ditimbang terlebih dahulu. Sampel dengan berat 800–1.000 gram selanjutnya dikirim pada hari yang sama untuk dilakukan pengujian laboratorium,” jelas Desya.
Melalui proses pengawasan dan pengujian laboratorium ini, Lapas Banjarmasin terus mendorong pengelolaan hasil pertanian yang memenuhi standar keamanan pangan. Upaya tersebut diharapkan dapat meningkatkan kualitas produk sekaligus menjadi sarana pembelajaran bagi warga binaan untuk mengembangkan keterampilan di bidang pertanian sebagai bekal setelah kembali ke masyarakat. (Humas Lapas Banjarmasin)












