Cacatanpublik.com – Aktivis sekaligus kontributor Eko Gagak menyoroti menguatnya mentalitas “golek penak e dewe” atau mencari kenyamanan dan keuntungan untuk diri sendiri. Ia menilai pola pikir tersebut dapat menggerus etika, kepedulian sosial, dan kepercayaan publik.
Eko menyampaikan kritik itu saat melihat perubahan orientasi sebagian orang dalam menjalankan profesi maupun kewenangan. Menurutnya, kepentingan pribadi atau kelompok terkadang lebih dominan daripada tanggung jawab kepada masyarakat.
Ia mengingatkan bahwa persoalan tersebut tidak berkaitan dengan satu profesi atau lembaga tertentu. Eko melihat kecenderungan pragmatis dapat muncul di berbagai sektor ketika seseorang menempatkan keuntungan pribadi sebagai tujuan utama.
Etika Profesi Jangan Kalah oleh Kepentingan Pribadi
Eko menyoroti sejumlah sektor yang menurutnya perlu memperkuat kembali komitmen terhadap etika dan kepentingan publik.
Di dunia media, ia mengkritik praktik oknum yang mengejar traffic melalui berita sensasional atau memanfaatkan pemberitaan untuk kepentingan tertentu. Eko juga menyinggung pentingnya menjaga independensi media dari tekanan kepentingan pemilik modal.
Namun, ia menegaskan kritik tersebut tidak ditujukan kepada seluruh wartawan maupun perusahaan media. Menurutnya, banyak insan pers tetap menjalankan tugas secara profesional dengan berpegang pada kode etik jurnalistik.
Eko juga menyoroti organisasi masyarakat dan politik. Ia mengingatkan agar organisasi tidak menjadikan isu sosial sekadar alat untuk memperoleh keuntungan. Dalam politik, ia mendorong para politisi menjaga konsistensi dalam memperjuangkan kepentingan masyarakat, bukan sekadar mengejar posisi atau kepentingan karier.
Pelayanan Publik Harus Mengutamakan Masyarakat
Sorotan serupa Eko sampaikan terhadap sektor hukum dan pelayanan publik. Ia menilai masyarakat membutuhkan aparatur dan tenaga profesional yang menjalankan tugas secara bertanggung jawab.
Menurut Eko, kewenangan tidak boleh berubah menjadi alat untuk mencari keuntungan pribadi. Ia juga mengingatkan agar penyelenggara pelayanan publik memberikan layanan secara adil tanpa membedakan masyarakat berdasarkan kemampuan ekonomi.
Dalam dunia pendidikan dan kesehatan, Eko menekankan pentingnya keseimbangan antara hak dan kewajiban. Menurutnya, setiap pekerja berhak memperoleh penghargaan yang layak, tetapi pada saat yang sama harus memberikan pelayanan dan dedikasi sesuai tanggung jawab profesinya.
Tekanan Ekonomi Tidak Boleh Menghapus Kejujuran
Eko mengakui tekanan ekonomi dapat memengaruhi perilaku seseorang. Namun, ia menilai kondisi tersebut tidak boleh menjadi alasan untuk mengabaikan kejujuran dan tanggung jawab.
Ia melihat individualisme ekstrem dan pola pikir transaksional ikut mendorong masyarakat untuk mengukur segala sesuatu berdasarkan keuntungan yang diterima.
“Ketika idealisme kalah oleh pragmatisme materi, hancurnya kepercayaan publik menjadi harga mahal yang harus dibayar bersama,” kata Eko.
Menurutnya, masyarakat akan menghadapi persoalan lebih besar apabila sikap mementingkan diri sendiri dianggap sebagai sesuatu yang normal. Sikap tersebut dapat mengurangi kepedulian antarwarga dan melemahkan semangat gotong royong.
Gotong Royong sebagai Jalan Keluar
Eko mendorong masyarakat kembali memperkuat nilai kebersamaan. Ia menilai gotong royong bukan sekadar tradisi, tetapi modal sosial yang menjaga hubungan antarwarga.
Ia mengajak setiap orang menjalankan profesinya dengan mempertimbangkan dampak terhadap kepentingan umum. Menurut Eko, keberhasilan seseorang tidak cukup diukur dari keuntungan pribadi, tetapi juga dari manfaat yang diberikan kepada lingkungan dan masyarakat.
“Golek penak e dewe adalah pengingat bahwa krisis moralitas bukan hanya soal jabatan atau profesi. Persoalannya terletak pada kejujuran ketika seseorang berhadapan dengan kepentingan dan kenyamanan pribadi,” tegasnya.
Kritik Sosial Lewat Bahasa Sehari-hari
Eko selama ini menyampaikan kritik sosial melalui tulisan opini. Ia menggunakan gaya bahasa sehari-hari untuk mengangkat persoalan yang dianggapnya dekat dengan kehidupan masyarakat.
Dalam sejumlah tulisannya, Eko menggunakan empat karakter utama, yakni tolol, tego, gombal, dan dobbol. Ia menjadikan karakter tersebut sebagai perangkat kritik untuk menggambarkan perilaku yang menurutnya merugikan kepentingan publik.
Eko berharap tulisan-tulisannya dapat menjadi ruang refleksi bagi masyarakat. Ia tidak ingin kritik berhenti pada saling menyalahkan, tetapi mendorong setiap pihak melakukan evaluasi terhadap perilakunya masing-masing.
Menurut Eko, masyarakat membutuhkan lebih banyak kejujuran, kepedulian, tanggung jawab, dan solidaritas untuk membangun kembali kepercayaan publik.
Ia menegaskan bahwa kepentingan pribadi tidak seharusnya mengorbankan kepentingan bersama. Karena itu, ia mengajak masyarakat meninggalkan pola pikir “golek penak e dewe” dan kembali menghidupkan semangat gotong royong dalam kehidupan sehari-hari.(Yud)








