Cacatanpublik.com – PT Terminal Teluk Lamong (TTL) menjadikan peralihan ke energi bersih dan pengelolaan cerdas sebagai pondasi utama dalam mewujudkan pelabuhan ramah lingkungan serta mencapai target Net Zero Emission pada tahun 2060. Perusahaan secara sistematis mengganti seluruh peralatan bongkar‑muat dan kendaraan operasional menjadi penggerak listrik sepenuhnya, sambil membangun infrastruktur pendukung yang memadai dan memastikan pasokan energi semakin berasal dari sumber terbarukan. TTL tidak sekadar mengubah bahan bakar, tetapi benar‑benar memperbarui cara berpikir dan bekerja supaya setiap gerakan menghasilkan manfaat terbesar dengan pengorbanan terkecil bagi alam.
Mereka memasang sistem pengisian energi yang tersebar merata di seluruh area kerja dan menghubungkannya dengan jaringan pemantauan terpusat. Tim teknis merancang serta mengoperasikan perangkat lunak pintar yang mengatur pergerakan alat, menjadwalkan kegiatan, dan menyeimbangkan pemakaian daya secara otomatis supaya tidak terjadi pemborosan sedikitpun. TTL juga memanfaatkan data secara nyata untuk mencatat, membandingkan, lalu terus memperhalus pola kerja serta mengurangi perjalanan mundur atau penundaan yang tidak perlu. Bersama lembaga penelitian seperti BRIN, TTL menguji bahan, mencoba metode baru, dan memantau dampak lingkungan supaya langkah yang diambil benar‑benar mantap dan terukur.
Senior Manajer Sistem Manajemen dan HSSE TTL, Anang Januriandoko, menjelaskan seluruh upaya ini kepada rombongan Staf Ahli Kemenhub saat kunjungan peninjauan 27 Agustus 2026. “Kami memilih dan menerapkan teknologi ini bukan hanya karena terlihat canggih, melainkan karena kami ingin benar‑benar mengurangi beban yang diberikan kepada bumi,” tegasnya. “Kami mengukur setiap kilowatt yang terpakai dan setiap gram yang berkurang dari udara supaya kami selalu tahu di mana kami berdiri dan ke mana kami harus melangkah berikutnya.”
Dr. Capt. Antoni Arif Priadi mengapresiasi langkah TTL yang jelas, terukur dan terencana ini. Ia menegaskan bahwa mengandalkan energi listrik saja belum cukup—kita wajib menggunakannya dengan sangat bijak dan efisien sekaligus. “TTL memahami hal ini dengan sangat baik: mereka mengubah sumber tenaga dan sekaligus memperbaiki sistem kerjanya,” ujarnya dengan puas. “Inilah kunci sebenarnya supaya kita bisa berkembang tetap laju namun tetap ringan dan bersih di bumi ini. Kalau pelabuhan terbesar dan terpenting bisa melakukannya, pasti semua bisa mengikutinya.”
TTL menambahkan bahwa ketergantungan pada bahan bakar fosil akan terus menurun setiap tahun sampai benar‑benar mendekati nol pada tujuan tahun 2060. Perusahaan terus mencari dan menerapkan cara‑cara yang lebih baik lagi, terbuka terhadap masukan serta pengalaman pihak luar, dan bertekad menjadi contoh yang jelas bahwa kemajuan ekonomi serta pelestarian lingkungan bisa berjalan beriringan dan saling menguatkan. “Kami memulai dari hal paling mendasar — bagaimana kita bergerak dan mengambil tenaga — karena kami ingin membangun pondasi yang kuat bagi masa depan anak‑cucu kelak,” tutup Anang Januriandoko.(Red)











