Double Track Ponorogo Naik Kelas, Dindik Jatim Dorong Keterampilan Siswa Jadi Peluang Usaha

Cacatanpublik.com – Dinas Pendidikan (Dindik) Jawa Timur mendorong program SMA Double Track di Kabupaten Ponorogo naik kelas. Dindik Jatim tidak ingin program tersebut berhenti pada pelatihan keterampilan, tetapi mampu mengubah kompetensi siswa menjadi produk, jasa, hingga peluang usaha yang memiliki pasar.

Dindik Jatim bersama Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) melakukan monitoring dan evaluasi (monev) program SMA Double Track di Ponorogo, Kamis (3/9/2026). Tahun ini, Dindik Jatim mengubah pola monev dengan mengurangi kegiatan seremonial dan memperkuat forum focus group discussion (FGD) bersama sekolah.

Melalui forum tersebut, sekolah memaparkan praktik baik, perkembangan program, serta berbagai kendala yang mereka hadapi. Dindik Jatim juga menghadirkan alumni untuk berbagi pengalaman mengenai keterampilan yang mereka peroleh melalui Double Track dan pemanfaatannya dalam dunia kerja maupun usaha.

Kepala Dindik Jawa Timur, Aries Agung Paewai, mengatakan monev tidak boleh hanya mengejar capaian administrasi atau melihat angka transaksi. Menurutnya, evaluasi harus mampu menemukan persoalan nyata di lapangan sekaligus menghasilkan langkah perbaikan yang konkret.

“Lewat FGD ini, sekolah bisa menyampaikan praktik baik, tantangan dan kendala yang dihadapi. Kita juga menghadirkan alumni untuk melihat sejauh mana Double Track memberikan dampak terhadap usaha yang mereka rintis,” kata Aries, Jumat (4/9/2026).

Aries menilai forum tersebut dapat membantu Dindik Jatim melihat efektivitas program secara lebih menyeluruh. Tim ITS selaku mitra pendamping juga memaparkan perkembangan program Double Track di Ponorogo.

631 Siswa Aktif Ikuti Double Track

Di Ponorogo, program SMA Double Track berjalan di 10 sekolah dengan 22 rombongan belajar kelompok pembelajaran. Program tersebut melibatkan 631 siswa aktif dan 109 Kelompok Usaha Siswa (KUS).

Sepuluh sekolah tersebut meliputi SMAN 1 Sambit, SMAN 1 Badegan, SMAN 1 Slahung, SMAN 1 Jenangan, SMAN 1 Kauman, SMAN 1 Ngrayun, SMAN 1 Jetis, SMAN 1 Bungkal, SMAN 1 Balong dan SMAN 1 Sampung.

Program itu juga telah mencatat 4.289 alumni. Dari jumlah tersebut, sebanyak 1.824 alumni atau 42,47 persen tercatat telah bekerja. Sementara 366 alumni lainnya memilih mengembangkan usaha.

Dari sisi transaksi, program Double Track di Ponorogo telah mencatat nilai Rp161,1 juta dari target Rp214,7 juta. Capaian tersebut mencapai 75,79 persen.

Meski belum memenuhi target, Aries meminta sekolah tidak menjadikan angka transaksi sebagai satu-satunya ukuran keberhasilan.

“Target kita bukan sekadar tentang angka transaksi. Melainkan membangun ekosistem usaha siswa yang sehat dan berkelanjutan,” tegas Aries.

Dorong Siswa Kuasai Konsep 5P

Aries menjelaskan, Dindik Jatim merancang program SMA Double Track untuk membekali siswa SMA dengan keterampilan praktis sekaligus jiwa kewirausahaan.

Program tersebut menjadi salah satu upaya menjawab kondisi banyak lulusan SMA yang tidak melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi. Karena itu, Dindik Jatim ingin siswa memiliki keterampilan yang dapat mereka gunakan untuk memasuki dunia kerja maupun membangun usaha secara mandiri.

Aries menekankan konsep 5P, yakni pelajari, produksi, pasarkan, pelanggan­kan, dan perbesar.

Menurutnya, siswa tidak boleh berhenti setelah mampu membuat sebuah produk. Mereka harus memahami kebutuhan pasar, mengembangkan produk, memasarkannya, membangun kepercayaan konsumen, hingga memperbesar peluang usaha.

“Jangan berhenti ketika murid hanya membuat produk. Dorong untuk menciptakan karya yang bernilai, berani memasarkannya, mampu membuat orang percaya dan membeli, serta terus mengembangkan menjadi peluang nyata,” ujarnya.

Kompetensi Double Track mencakup berbagai bidang, mulai dari makanan dan minuman, busana, kecantikan, desain, fotografi, digital hingga berbagai jenis jasa.

Sekolah Diminta Punya Produk Unggulan

Dindik Jatim juga meminta sekolah yang telah memiliki potensi usaha untuk fokus mengembangkan produk unggulan. Setiap sekolah dianjurkan memiliki minimal satu dan maksimal tiga produk unggulan.

Sekolah juga perlu membangun sistem pembelian berulang atau repeat order, memperkuat konten digital dan menjalin kemitraan aktif dengan berbagai pihak.

Sementara itu, sekolah yang masih belum menemukan potensi produk diminta melakukan analisis terhadap produk, pasar, harga dan strategi promosi. Sekolah juga harus menyesuaikan kompetensi yang diajarkan dengan minat siswa dan kebutuhan industri.

“Satu sekolah tidak perlu hebat di semua hal. Tetapi setiap sekolah harus punya sesuatu yang benar-benar hidup,” kata Aries.

Perluas Pasar dari Sekolah hingga Digital

Untuk memperluas pemasaran produk siswa, Aries mendorong sekolah menerapkan strategi tiga lapis.

Pertama, sekolah dapat memanfaatkan pasar internal sebagai tempat menguji produk dan harga sekaligus mendapatkan umpan balik dari konsumen awal.

Kedua, sekolah perlu menyasar pasar lokal Ponorogo dengan mengikuti kebutuhan konsumen, membangun kerja sama dengan komunitas dan masuk dalam rantai pasok UMKM.

Ketiga, sekolah harus memanfaatkan pasar digital melalui katalog produk, konten kreatif, layanan pemesanan dan pelayanan konsumen yang cepat.

“Pasar digital harus membuat semua sekolah memiliki etalase yang sama luasnya,” ujarnya.

Aries juga mendorong perubahan peran dalam ekosistem Double Track. Kepala sekolah harus bertindak seperti CEO yang menentukan prioritas, membuka jejaring dan memantau perkembangan program.

Guru atau trainer berperan sebagai mentor sekaligus market connector. Mereka tidak hanya mendampingi siswa dalam proyek, tetapi juga membantu menghubungkan produk siswa dengan pasar.

Sementara itu, dunia usaha dan dunia industri (DUDI) perlu menjadi mitra aktif. Bentuk kerja sama dapat mencakup penyelarasan kurikulum keterampilan, guru tamu, tempat magang, penyediaan fasilitas dan bahan, akses pasar hingga peluang kerja bagi lulusan.

“Double Track adalah tanggung jawab bersama. Setiap pihak memiliki peran. Setiap peran menentukan keberhasilan,” tegas Aries.

Dindik Jatim Tetapkan Enam Indikator

Untuk memastikan program berjalan terukur, Dindik Jatim menetapkan enam indikator kinerja utama atau KPI. Keenam indikator tersebut meliputi kompetensi, unggulan, pasar, transaksi, kemitraan dan alumni.

Indikator itu mencakup kemampuan siswa melakukan praktik secara mandiri, kepemilikan produk atau jasa unggulan, kemampuan membaca pelanggan dan kanal penjualan, pencatatan transaksi, keberadaan mitra aktif serta penelusuran kondisi alumni.

Aries berharap hasil monev dan FGD segera ditindaklanjuti masing-masing sekolah. Ia ingin Double Track menghasilkan siswa yang tidak hanya memiliki keterampilan, tetapi juga mampu menghasilkan produk atau jasa secara konsisten, menemukan pasar dan mengembangkan usaha setelah lulus.

“Kami berharap setelah monev ini ada perbaikan nyata. Sekolah harus semakin mampu membaca kebutuhan pasar, memperkuat produk unggulan, membangun kemitraan dan memanfaatkan pemasaran digital,” pungkas Aries.

Dalam monev tersebut, SMAN 1 Kauman, SMAN 1 Ngrayun, SMAN 1 Jetis, SMAN 1 Jenangan, SMAN 1 Badegan dan SMAN 1 Sampung turut mempresentasikan keberhasilan program Double Track yang telah dijalankan siswa.(Yud)

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *