Cacatanpublik.com– Dinas Pendidikan Kota Surabaya memperkuat program literasi digital di sekolah sebagai langkah mencegah maraknya judi online di kalangan pelajar. Upaya tersebut dilakukan menyusul meningkatnya kasus keterlibatan anak usia sekolah dalam aktivitas perjudian digital yang kini semakin mudah diakses melalui handphone dan media sosial.
Langkah itu menjadi bagian dari Gerakan Sekolah Bersih Judi Online (Gesek Bejo) yang digagas Yayasan Jawapes Indonesia Emas bersama Jaringan Warga Peduli Sosial (Jawapes), Komisi D DPRD Kota Surabaya dan Dinas Pendidikan Kota Surabaya.
Program tersebut akan diluncurkan dalam diskusi publik memperingati Hari Kebangkitan Nasional pada 20 Mei 2026 di Siola Convention Hall Lantai 4 Gedung Siola, Jalan Tunjungan Surabaya.
Kepala Dinas Pendidikan Kota Surabaya, Febrina Kusumawati, SSi, MM menegaskan sekolah harus menjadi tempat aman bagi siswa untuk belajar dan berkembang tanpa pengaruh negatif perjudian digital.
“Kami akan terus memperkuat edukasi kepada siswa, guru dan orang tua terkait bahaya judi online. Sekolah harus menjadi tempat aman untuk tumbuh dan belajar, bukan menjadi sasaran perjudian digital,” ujar Febrina, Rabu (13/5/2026).
Menurut Febrina, penguatan literasi digital menjadi langkah penting karena sebagian besar pelajar mengenal judi online dari media sosial, permainan digital hingga konten live streaming yang beredar bebas di internet.
Dinas Pendidikan Surabaya juga akan meningkatkan pengawasan penggunaan gadget di lingkungan sekolah serta melibatkan guru dan orang tua dalam mengontrol aktivitas digital anak-anak.
“Kami ingin membangun kesadaran bersama bahwa penggunaan teknologi harus diarahkan untuk kegiatan positif dan pendidikan, bukan justru dimanfaatkan untuk perjudian online,” tegasnya.
Data Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK) mencatat perputaran uang judi online di Indonesia mencapai sekitar Rp3 triliun per hari. Sementara itu, hampir 960 ribu pelajar dan mahasiswa usia 11 hingga 19 tahun diduga terlibat aktivitas judi online sepanjang akhir 2024 hingga awal 2026.
Ketua Panitia Gesek Bejo, Rizal Diansyah Soesanto, ST, CPLA mengatakan gerakan tersebut akan berlanjut melalui road show edukasi ke sekolah-sekolah di Surabaya.
“Melalui Gesek Bejo, kami ingin membangun kesadaran kolektif agar pelajar tidak mudah terjerumus judi online. Pencegahan harus dimulai dari sekolah dan keluarga,” kata Rizal.
Anggota Komisi D DPRD Kota Surabaya, H. Johari Mustawan, STP, MARS menilai judi online di kalangan pelajar sudah menjadi kondisi darurat yang membutuhkan penanganan serius.
“Banyak pelajar awalnya hanya ikut-ikutan teman atau penasaran setelah melihat konten di media sosial. Karena itu, edukasi dan pengawasan harus diperkuat agar mereka tidak terjebak,” ujarnya.
Diskusi publik Gesek Bejo juga menghadirkan narasumber dari Dinas Komunikasi dan Informatika Kota Surabaya, Polrestabes Surabaya, ahli teknologi Prof. Mochamad Hariadi, ST, MSc, PhD dari Institut Teknologi Sepuluh Nopember serta praktisi hukum Dr. Suwito, SH, MH.
Melalui penguatan literasi digital dan pengawasan di sekolah, Dinas Pendidikan Surabaya berharap pelajar dapat lebih bijak menggunakan teknologi serta terhindar dari ancaman judi online yang merusak masa depan generasi muda.(Yud)









