BAKTIONO: Banteng Lawas yang Tetap Tegak dalam Badai

SURABAYA —
Di tengah hiruk-pikuk manuver politik dan drama murahan yang dimainkan oleh Ahmad Hidayat dan Armuji lewat media sosial — yang keabsahannya masih diragukan — Banteng Lawas ini tetap tegak berdiri. Tanpa banyak komentar, tanpa reaksi berlebihan. Baktiono memilih diam. Namun diamnya bukan berarti kalah. Justru, waktu membuktikan siapa yang benar dan siapa yang akhirnya menjadi pecundang — termasuk ketua DPC sendiri.

Sebuah episode kegagalan manuver politik yang penuh sandiwara, tanpa isi.

Kader kok malah celelekan — kalau sudah tidak dibutuhkan partai, ya legawa. Tidak usah nggayuk jabatan yang sudah mustahil didapat lagi: mau ngarep PAW di legislatif? Mau tetap jadi Sekretaris DPC?

Yang pernah mem-backup pun kini mulai menjauh. Takut terciprat, takut ikut terbawa.

Riwayat “kader ujug-ujug” pun tamat. Tinggal ketua DPC yang masih bercokol sebagai Ketua DPRD Kota Surabaya, menari di ujung tanduk. Siap-siap… tinggal menunggu waktu untuk dikipatno Banteng!

Apalagi kini eksternal partai pun sudah turun ke jalan. Demo sudah berjalan, suara-suara ketidakpuasan mulai menggema. Pihak luar yang dulu merasa dikadali, kini mulai berani bicara. Yang dulu berkuasa, sekarang tak lagi bertaji. Partainya pun sudah membebastugaskan.

Baktiono, Sosok yang Sulit Ditandingi
Pertanyaannya sederhana:
Kader mana yang bisa menyamai pencapaian Baktiono — juragan kerupuk ikan — di legislatif?

Bukan hanya di Surabaya. Bahkan di seluruh Indonesia, sulit mencari anggota legislatif yang mampu bertahan hingga 6 periode berturut-turut! Bahkan dari luar kandang banteng pun, rasanya tidak ada yang menyamai.

*Politikus Senior & Aktivis Sejati*

Baktiono dan Armuji, sama-sama kader lawas. Sejak era pra-Kudatuli, keduanya terlibat aktif dalam gerakan Promeg (Pro Megawati Soekarnoputri). Dari lima tokoh yang belakangan digadang-gadang, penulis hanya pernah bergerak bersama Baktiono dan Armuji di masa-masa sulit PDI. Yang lain, mungkin sudah lama ada, tapi tak pernah terlihat dalam ontran-ontran politik banteng gepeng di Surabaya.

Baktiono adalah arek asli Rangkah. Hingga kini masih tinggal di rumah lamanya di Rangkah Gang I. Aksesibilitas dan keterbukaannya tidak hanya dirasakan konstituen Dapil 2 saja. Wong Suroboyo dari mana saja, kalau ada masalah, pasti dibantu. Gak mbatesi dapil!

Kebiasaannya membawa kamera kemana-mana telah menjadi arsip sejarah visual partai. Dokumentasi itu kini bisa dilihat generasi muda sebagai warisan perjuangan.

*Gen Nasionalis, Jiwa Sosialis*

Baktiono lahir dari keluarga nasionalis. Paklik-nya, Imam Suroso, adalah nasionalis sejati, seangkatan dengan almarhum Ir. Sucipto. Dari muda, lelaki berperilaku santun ini telah ditempa oleh mentor-mentor politik berintegritas tinggi.

Ia aktif sebagai organisator yang tidak pernah berpaling dari pilihan awalnya. Prinsipnya jelas:
“Dalam politik, bukan kepentingan pribadi yang abadi. Tapi kepentingan orang banyak yang utama.”

*Pilkada Surabaya 2020:*
Ajak Jalan Bersama
Penulis, sebagai pegiat sosial dan aktivis jalanan — dulunya tukang becak, kini bakul kopi — diajak langsung oleh Baktiono untuk ikut memenangkan calon dari PDIP: Eri Cahyadi dan Armuji.

“Mas, aku iki ijen mbelani Eri Cahyadi karo Armuji. Tolong rewangono menangno calon sing diusung PDIP, sing direkom Bu Mega. Suroboyo iki kandange Banteng. Harus Abang!”

Ajakan itu bukan sekadar basa-basi. Lebih dari 40 titik kegiatan berhasil dijalankan. Gerakan eksekutif dan legislatif waktu itu klop: ERJI (Eri–Armuji) harus menang.

Aksi dan Konsistensi
Di masa ketika PDI belum menjadi PDIP dan sedang dikuyo-kuyo rezim Orde Baru, Baktiono tetap berada di barisan depan. Bersama para pendukung Promeg, ia tak gentar.

Foto-fotonya saat aksi kini banyak menghiasi media sosial. Bahkan hingga hari ini, penulis masih sering berdiskusi dengannya—meski sekadar via WhatsApp—soal perkembangan kota dan negara. Obrolan itu kadang melahirkan inspirasi aksi-aksi nyata.

Tidak Pelit Ilmu: Sosok Pendamping Masyarakat
Penulis pernah belajar dari Baktiono cara mendampingi pasien rumah sakit.

*Nasihat-nasihat sederhananya membekas:*

“Nang RS ojo ngamukan, sakno pasien e.”

“Wong Suroboyo kudu bisa berobat gratis, yo opo carane?”

“Bukan ikan yang diberi, tapi kailnya.”

*Kongres & Jejak Politik yang Kuat*

Selain menjadi anggota DPRD Kota Surabaya terlama (6 periode), Baktiono juga tercatat sebagai kader PDIP Surabaya yang paling banyak menjadi utusan kongres, yakni 5 kali:

Kongres PDI ke-V tahun 1998

Kongres PDIP ke-I tahun 2000

Kongres ke-IV tahun 2014

Kongres ke-V tahun 2019

Kongres ke-VI tahun 2025 (terbaru)

Dalam Kongres ke-VI di Bali, Baktiono bahkan terpilih sebagai Ketua Komisi Organisasi dan memimpin sidang komisi. Ini pencapaian luar biasa dari seorang kader daerah!

*Daftar Kader Banteng Surabaya Utusan Kongres PDI/PDIP*

1.Baktiono – 5 kali

2.Whisnu Sakti Buana – 3 kali

3.Armuji – 2 kali

4.Saifudin Zuhri – 2 kali

5.Taru Sasmita – 2 kali

6.Adi Sutarwiyono – 1 kali

7.Bambang Dwi Hartono – 1 kali

8.Budi Harijono – 1 kali

9.Budi Leksono – 1 kali

10.Fany (dokter) – 1 kali

12.Hari Dewanto – 1 kali

13.Prasetiawan – 1 kali

14.Saleh Ismail Mukadar – 1 kali

15.Yordan M. Bataragoa – 1 kali

*Selamat atas Pengukuhan Mbok’e Banteng*

Kongres VI di Bali juga mengukuhkan kembali Ibu Prof. Dr. (HC) Hj. Diah Permata Megawati Setiawati Soekarnoputri, MT. sebagai Ketua Umum PDIP untuk periode 2025–2030.

Meski tanpa euforia yang membuncah, penulis dan banyak kader tetap menyambut dengan bangga.

Yang ditunggu selanjutnya:
Siapa yang pantas memimpin kandang banteng Surabaya?

Setelah Kongres, akan ada Konferdasus dan Konfercabsus. Semoga Surabaya dipimpin oleh banteng yang landhep sungune!

YANTO BANTENG
Rahayu
Nuwun

Bersambung…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *