cacatanpublik.com– Ketua Tim Penggerak PKK Jawa Timur, Arumi Bachsin Emil Dardak, menyoroti tingginya penggunaan gadget di kalangan anak-anak yang terus meningkat seiring pesatnya perkembangan teknologi digital.
Ia meminta para orang tua untuk lebih aktif mendampingi dan mengawasi aktivitas anak di dunia maya guna mencegah berbagai dampak negatif yang dapat mengganggu tumbuh kembang mereka.
Arumi menyampaikan hal tersebut saat menjadi keynote speaker dalam kegiatan “Bijak Digital, Anak Terlindungi” yang digelar di Surabaya, Minggu (7/6/2026).
Kegiatan tersebut diikuti ratusan peserta dari berbagai organisasi perempuan, tenaga pendidik, komunitas, dan pegiat perlindungan anak di Jawa Timur.
Dalam pemaparannya, Arumi menjelaskan bahwa anak-anak saat ini tumbuh sebagai generasi digital yang sangat dekat dengan teknologi.
Mereka mampu mengoperasikan berbagai perangkat dan aplikasi digital sejak usia dini. Namun, kemudahan akses teknologi juga menghadirkan tantangan baru bagi keluarga.
Menurut Arumi, data penggunaan gadget pada anak-anak Indonesia menunjukkan tren yang perlu mendapat perhatian serius.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2024, sebanyak 39,71 persen anak usia dini telah menggunakan telepon seluler dan 35,57 persen telah mengakses internet.
Bahkan, sebagian anak di bawah usia satu tahun sudah mengenal dan menggunakan perangkat digital.
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa paparan teknologi terjadi semakin dini dalam kehidupan anak-anak Indonesia.
“Data ini menjadi alarm bagi kita semua. Anak-anak semakin cepat mengenal teknologi, sehingga orang tua harus lebih aktif mendampingi mereka agar penggunaan gadget tetap berada dalam batas yang sehat dan aman,” ujar Arumi.
Ia juga mengutip hasil penelitian yang menunjukkan bahwa anak usia 12 hingga 15 tahun rata-rata menghabiskan hampir enam jam setiap hari di depan layar.
Sebagian besar waktu tersebut digunakan untuk mengakses media sosial dan bermain gim, sementara porsi untuk kegiatan belajar masih relatif rendah.
Arumi mengingatkan bahwa penggunaan gadget secara berlebihan dapat memengaruhi kesehatan fisik maupun mental anak.
Dampaknya antara lain gangguan tidur, berkurangnya aktivitas fisik, menurunnya kemampuan bersosialisasi,
hingga munculnya masalah emosional akibat kurangnya interaksi langsung dengan lingkungan sekitar.
Selain itu, anak-anak juga menghadapi berbagai ancaman di ruang digital, seperti perundungan siber, penipuan daring, penyalahgunaan data pribadi, hingga paparan konten yang tidak sesuai dengan usia mereka.
Karena itu, Arumi mengajak para orang tua untuk tidak hanya memberikan akses teknologi kepada anak, tetapi juga membangun komunikasi yang terbuka, menetapkan aturan penggunaan gadget, serta menjadi teladan dalam penggunaan teknologi yang bijak.
“Orang tua harus hadir sebagai pendamping, bukan sekadar pengawas.
Anak-anak membutuhkan arahan agar mampu memanfaatkan teknologi untuk belajar, berkreasi, dan mengembangkan potensi diri secara positif,” katanya.
Dalam kesempatan yang sama, Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika Jawa Timur, Sherlita Ratna Dewi Agustin, menegaskan pentingnya literasi digital bagi keluarga.
Ia menjelaskan bahwa literasi digital tidak hanya berkaitan dengan kemampuan menggunakan perangkat teknologi,
tetapi juga kemampuan berpikir kritis, menjaga keamanan diri, dan bertanggung jawab dalam beraktivitas di dunia maya.
Arumi menutup sambutannya dengan mengajak keluarga, sekolah, komunitas, dan pemerintah untuk memperkuat kolaborasi dalam menciptakan ruang digital yang aman dan ramah anak.
Menurutnya, keterlibatan semua pihak sangat diperlukan agar teknologi benar-benar menjadi sarana yang mendukung tumbuh kembang generasi muda Indonesia.(Yud)











