Cacatanpublik.com – Di tengah maraknya berbagai organisasi masyarakat, lembaga swadaya masyarakat (LSM), dan individu yang mengklaim memperjuangkan kepentingan rakyat, publik justru kerap berada pada posisi sebagai penonton.
Kondisi ini memunculkan pertanyaan tentang sejauh mana peran nyata pihak-pihak tersebut dalam memberikan manfaat langsung kepada masyarakat.
Sejumlah pengamat menilai, fenomena ini muncul ketika banyak pihak menggunakan label “untuk rakyat” sebagai narasi utama,
namun dalam praktiknya tidak selalu sejalan dengan kebutuhan dan kepentingan publik di lapangan.
Aktivis sosial Eko Gagak menyoroti kondisi tersebut. Ia menilai bahwa sebagian pihak mulai kehilangan arah dalam menjalankan fungsi sosialnya.
“Banyak yang mengatasnamakan rakyat, tapi yang terlihat justru kepentingan tertentu yang lebih dominan,” ujarnya, Senin (20/04/2026).
Ia menjelaskan bahwa kondisi ini dapat menimbulkan jarak antara masyarakat dan para penggerak sosial. Publik, kata dia, akhirnya hanya menyaksikan berbagai aktivitas tanpa benar-benar merasakan dampak langsung.
Eko juga menekankan pentingnya kembali pada prinsip dasar pengabdian kepada masyarakat.
Menurutnya, setiap organisasi maupun individu yang bergerak di ruang publik harus memiliki komitmen yang jelas dan transparan.
“Kalau semua mengaku untuk rakyat, maka yang harus dilihat adalah hasil nyatanya untuk rakyat itu sendiri,” tegasnya.
Di sisi lain, ia mengakui bahwa masih banyak pihak yang bekerja secara konsisten dan tulus untuk kepentingan masyarakat.
Namun, keberadaan segelintir oknum dinilai cukup untuk menurunkan tingkat kepercayaan publik.
Masyarakat pun berharap agar setiap pihak yang mengatasnamakan rakyat benar-benar menunjukkan kerja nyata, bukan sekadar slogan.
Publik menginginkan adanya kejelasan peran, transparansi, serta dampak yang dapat dirasakan langsung.
Fenomena ini menjadi pengingat bahwa klaim “untuk rakyat” harus dibuktikan melalui tindakan nyata, bukan hanya menjadi narasi yang berulang di ruang publik.(Yud,),







