Premanisme dan Opini Publik: Arek Suroboyo Jaga Martabat Kota Pahlawan

Surabaya –cacatanpublik .com 09  Januari 20205 Isu premanisme kembali menjadi perbincangan publik di Surabaya menyusul digelarnya Silaturahmi Satgas Anti Premanisme dengan Pengusaha di Balai Kota Surabaya, Jumat. Forum tersebut memicu beragam tanggapan karena dinilai berpotensi membentuk opini publik yang kurang menguntungkan bagi citra Surabaya sebagai Kota Pahlawan.

Sebagian kalangan menilai narasi yang berkembang pasca forum tersebut seolah menggambarkan Surabaya dalam kondisi rawan premanisme. Ilustrasi tersebut dinilai tidak sejalan dengan realitas keseharian warga yang selama ini merasakan Surabaya sebagai kota yang relatif aman dan kondusif.

Opini publik yang terbentuk dinilai perlu disikapi secara bijak dan proporsional agar tidak menimbulkan stigma negatif terhadap identitas Kota Pahlawan. Sejumlah tokoh masyarakat menegaskan pentingnya menjaga keseimbangan antara upaya penegakan ketertiban dan perlindungan terhadap martabat kota.

Tokoh masyarakat Surabaya sekaligus Ketua LSM Masyarakat Anti Korupsi Indonesia (MAKI) Koordinator Wilayah Jawa Timur, Heru, menyampaikan bahwa penanganan isu premanisme tidak boleh dilakukan dengan cara yang justru mencederai harga diri arek Suroboyo.

“Menurut saya, Surabaya tetap kota yang aman. Kalau pun ada tindakan premanisme, itu hanya dilakukan oleh segelintir oknum dan tidak bisa digeneralisasi seolah menjadi wajah Surabaya,” kata Heru.

Sebagai arek Suroboyo yang lahir, besar, dan masih berdomisili di Surabaya, Heru mengaku terpanggil untuk meluruskan opini publik yang dinilainya mulai bergeser. Ia menekankan bahwa Surabaya memiliki sejarah panjang sebagai kota perjuangan yang dibangun di atas nilai keberanian, solidaritas, dan kebersamaan.

Ia juga menyoroti pentingnya peran pemerintah kota dan Forkopimda dalam menyampaikan pesan yang menyejukkan kepada masyarakat. Menurutnya, narasi tentang semangat wani dan damai harus menjadi pesan utama dalam setiap kebijakan dan komunikasi publik.

Heru mempertanyakan relevansi pelibatan pengusaha dalam forum anti premanisme tersebut. Ia menilai bahwa persoalan keamanan dan ketertiban masyarakat merupakan ranah aparat penegak hukum yang sudah memiliki struktur dan kewenangan jelas.

“Surabaya memiliki Polsek, Polres, hingga Polda. Keamanan kota ini dijaga oleh aparat yang profesional. Jangan sampai forum seperti ini justru menimbulkan kesan bahwa Surabaya sedang tidak aman,” ujarnya.

Sebagai langkah konkret menjaga martabat Kota Pahlawan, Heru menyampaikan rencana pelaksanaan Apel Siaga Akbar bertajuk “Arek Suroboyo WANI dan DAMAI”. Kegiatan tersebut diharapkan menjadi ruang konsolidasi moral dan sosial warga Surabaya dalam menjaga kondusivitas kota.

Apel tersebut juga dimaksudkan sebagai penegasan sikap bahwa arek Suroboyo menolak segala bentuk premanisme, sekaligus menolak stigma yang tidak proporsional terhadap kota yang memiliki sejarah dan identitas kepahlawanan yang kuat.(Yud,)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *