Sidoarjo –06 Januari 2025 Pemerintah Kabupaten Sidoarjo melibatkan Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) dalam penyusunan master plan penataan kota sebagai upaya strategis dan ilmiah untuk mengatasi persoalan banjir yang kerap melanda sejumlah wilayah.
Master plan tersebut dipaparkan dalam rapat di Ops room Sekretariat Daerah Kabupaten Sidoarjo, Selasa , yang dihadiri Bupati Sidoarjo H. Subandi, Sekretaris Daerah Fenny Aprida wati, Kepala Bappeda M. Ainur Rahman, Asisten Administrasi Perekonomian dan Pembangunan Muhammad Makhmud, jajaran Organisasi Perangkat Daerah (OPD), para camat, serta tim ahli dari ITS.
Bupati Subandi menyampaikan bahwa keterlibatan ITS sangat penting untuk memastikan perencanaan penataan kota berbasis kajian akademik dan data lapangan yang komprehensif, sehingga penanganan banjir dapat dilakukan secara terukur dan berkelanjutan.
“Sidoarjo ini wilayah kota delta dengan banyak sungai afvoer. Banjir yang terjadi tidak hanya karena curah hujan, tetapi juga dipengaruhi pasang air laut atau rob. Karena itu, dibutuhkan kajian teknis yang matang dan berbasis keilmuan,” ujarnya.
Dalam pemaparannya, tim penyusun masterplan dari ITS mengusung konsep “Menuju Sidoarjo yang SERASI” (Sentosa, Ekologis, Resilien, Aksesibel, Sinergis, dan ber-Identitas). Konsep tersebut dirancang selaras dengan Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Kabupaten Sidoarjo 2024–2044 serta Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah (RPJPD) 2025–2045.
Bupati Subandi juga menyoroti keterbatasan anggaran daerah dalam penanganan banjir yang saat ini berkisar Rp5,8 miliar. Menurutnya, keberadaan masterplan menjadi pedoman utama untuk menentukan skala prioritas penanganan di setiap wilayah.
“Dengan masterplan ini, kita bisa memetakan penyebab dan titik rawan banjir secara detail. Dari situ, kita tentukan penanganan bertahap setiap tahun sesuai kemampuan anggaran,” jelasnya.
Beberapa kawasan yang menjadi fokus perhatian antara lain wilayah langganan banjir seperti Tanggulangin, Candi, dan Waru, serta kawasan perkotaan yang memerlukan normalisasi saluran air akibat maraknya bangunan di sepanjang bantaran sungai.
Bupati Subandi menegaskan bahwa penataan kota dan pengendalian banjir merupakan tanggung jawab bersama seluruh pemangku kepentingan.
Ia berharap, kolaborasi antara pemerintah daerah, akademisi, dan masyarakat mampu menghadirkan solusi jangka panjang.
“Ini bukan pekerjaan satu pihak. Dengan adanya grand design yang disusun bersama ITS, kita memiliki arah dan tahapan yang jelas agar dampaknya bisa dirasakan masyarakat secara berkelanjutan,” tegasnya.
Sebagai informasi, Masterplan Penataan Kota Sidoarjo mencakup empat sektor intervensi utama, yakni sistem drainase dan pengendalian banjir, rehabilitasi infrastruktur jalan, rehabilitasi fasilitas pendidikan (sekolah), serta revitalisasi ruang terbuka hijau (RTH).
Melalui sinergi lintas sektor dan pendekatan berbasis keilmuan, Pemkab Sidoarjo optimistis mampu mewujudkan kota yang lebih tangguh terhadap banjir sekaligus ramah lingkungan.(Yud)





