cacatanpublik.com– Kontributor dan pemerhati sosial Eko Gagak mengajak masyarakat untuk memahami makna Hari Raya Iduladha secara lebih mendalam.
Menurutnya, ibadah kurban tidak hanya berkaitan dengan penyembelihan hewan ternak, tetapi juga menjadi simbol ketakwaan, keikhlasan, dan kepedulian sosial terhadap sesama.
Pernyataan tersebut disampaikan Eko Gagak saat menyoroti pelaksanaan Iduladha 1447 Hijriah yang berlangsung di tengah kondisi ekonomi masyarakat yang masih menghadapi berbagai tantangan.
Ia menilai banyak warga yang saat ini berjuang memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari sehingga tidak semua orang memiliki kemampuan untuk melaksanakan ibadah kurban.
Meski demikian, Eko menegaskan bahwa esensi Iduladha tidak terletak pada besar kecilnya nilai hewan kurban yang disembelih.
Ia menekankan bahwa Allah SWT menilai ketakwaan dan keikhlasan umat, bukan semata-mata jumlah atau nilai materi yang dikorbankan.
“Makna kurban sesungguhnya adalah mendekatkan diri kepada Allah SWT melalui pengorbanan dan keikhlasan. Kurban merupakan simbol ketakwaan, bukan sekadar tradisi tahunan yang dilakukan tanpa memahami nilai spiritual di dalamnya,” ujar Eko.
Ia menjelaskan bahwa Iduladha berakar dari kisah Nabi Ibrahim AS yang menunjukkan ketaatan penuh kepada Allah SWT saat menerima perintah untuk mengorbankan putranya, Nabi Ismail AS.
Dari peristiwa tersebut, umat Islam diajarkan tentang pentingnya kepatuhan kepada Allah, keikhlasan, serta kesediaan mengorbankan kepentingan pribadi demi kebaikan yang lebih besar.
Menurut Eko, nilai-nilai tersebut sangat relevan dengan kondisi sosial saat ini.
Ia mengajak masyarakat untuk menjadikan Idul adha sebagai momentum memperkuat solidaritas sosial, terutama kepada kelompok masyarakat yang hidup dalam keterbatasan ekonomi.
“Idul adha mengajarkan kepedulian terhadap fakir miskin dan mereka yang membutuhkan bantuan. Semangat berbagi harus menjadi bagian penting dari perayaan hari raya ini,” katanya.
Eko juga mengingatkan bahwa ibadah kurban harus dilaksanakan dengan menggunakan harta yang halal dan diperoleh melalui cara-cara yang benar.
Ia menegaskan bahwa harta yang berasal dari korupsi, suap, pemerasan, atau tindak kejahatan lainnya tidak dapat menjadi sarana untuk menghapus kesalahan yang dilakukan pelakunya.
Selain itu, ia menyoroti menurunnya daya beli masyarakat yang berdampak pada penjualan hewan kurban di sejumlah daerah.
Meski pasokan ternak mencukupi, banyak pedagang mengeluhkan penurunan omzet akibat berkurangnya jumlah pembeli dan pekurban dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.
Dalam kesempatan tersebut, Eko juga mengajak para pemangku kebijakan untuk lebih serius memperhatikan kesejahteraan masyarakat.
Ia berharap pemerintah mampu menghadirkan kebijakan yang berpihak kepada rakyat, membuka lapangan pekerjaan, dan menekan berbagai praktik yang menyebabkan ketimpangan sosial.
Menutup pernyataannya, Eko Gagak mengajak umat Islam menjadikan Idul adha 1447 H sebagai momentum memperkuat ketakwaan, kepedulian sosial, dan rasa syukur kepada Allah SWT.
“Semoga kita mampu meneladani ketakwaan Nabi Ibrahim AS dan keikhlasan Nabi Ismail AS dalam kehidupan sehari-hari.
Idul adha bukan hanya tentang menyembelih hewan kurban, tetapi juga tentang menyembelih sifat egois, serakah, dan sikap yang menjauhkan kita dari nilai-nilai kemanusiaan,” pungkasnya.(Red)






