Viral Bagi Takjil di Grahadi, Benarkah Warga Dijadikan Objek Pencitraan?

Cacatanpublik.com– Aksi pembagian takjil dan beras di depan Gedung Grahadi mendadak viral di media sosial dan memicu beragam tanggapan dari masyarakat. Sejumlah pihak mempertanyakan motif di balik kegiatan tersebut, apakah murni bentuk kepedulian sosial atau sekadar ajang pencitraan.

Dalam video yang beredar, tampak sejumlah warga yang diduga kurang mampu berkumpul di lokasi setelah sebelumnya menerima kupon pembagian bantuan.

Panitia kemudian membagikan takjil dan beras secara terbuka sambil mendokumentasikan kegiatan melalui foto dan video.

Beberapa warga mengaku merasa terbantu dengan adanya pembagian tersebut, terutama di tengah kebutuhan ekonomi yang meningkat selama bulan Ramadan.

“Alhamdulillah bisa untuk berbuka dan kebutuhan beberapa hari ke depan,” ujar salah satu penerima bantuan.

Namun, di sisi lain, kritik bermunculan. Sejumlah aktivis menilai kegiatan tersebut berpotensi mengeksploitasi kondisi warga kurang mampu demi kepentingan publikasi.

Mereka menyoroti proses pengumpulan massa dan dokumentasi yang dinilai terlalu menonjolkan sisi seremonial.

“Kalau niatnya membantu, seharusnya tidak perlu dibuat berlebihan atau sampai mengumpulkan warga untuk kebutuhan konten,” kata salah satu pengamat sosial di Surabaya.

Lokasi pembagian di depan Gedung Grahadi juga menjadi sorotan. Selain karena merupakan pusat pemerintahan Jawa Timur,

area tersebut dinilai memiliki nilai simbolik tinggi sehingga setiap kegiatan mudah menarik perhatian publik dan media.

Pengamat menilai, penggunaan ruang publik yang strategis sah-sah saja, namun harus tetap memperhatikan etika,

terutama dalam menjaga martabat penerima bantuan. Mereka menegaskan bahwa warga kurang mampu seharusnya diposisikan sebagai subjek yang diberdayakan, bukan objek yang dimanfaatkan.

Di tengah polemik ini, muncul pula dugaan keterlibatan oknum LSM atau Ormas yang memanfaatkan kegiatan sosial sebagai sarana membangun citra atau kepentingan tertentu.

Bahkan, isu transparansi sumber dana hingga dugaan praktik tidak etis ikut mencuat di tengah perbincangan publik.

Meski demikian, banyak pihak mengingatkan agar masyarakat tidak langsung menggeneralisasi seluruh kegiatan sosial sebagai pencitraan.

Sebab, masih banyak komunitas dan organisasi yang secara konsisten melakukan aksi kemanusiaan dengan tulus tanpa mencari sorotan.

Pengamat sosial menekankan bahwa esensi berbagi di bulan Ramadan terletak pada keikhlasan dan kebermanfaatan. “Yang paling penting bukan di mana dan bagaimana ditampilkan, tetapi apakah bantuan itu benar-benar membantu dan tidak merendahkan penerimanya,” ujarnya.

Hingga kini, belum ada klarifikasi resmi dari pihak penyelenggara terkait polemik yang berkembang. Sementara itu,

perbincangan di media sosial masih terus bergulir, menandakan tingginya perhatian publik terhadap isu etika dalam kegiatan sosial.

Di tengah suasana Ramadan, masyarakat pun diingatkan untuk tetap menjunjung nilai kepedulian yang tulus,

menjaga martabat sesama, serta menghindari praktik yang dapat menimbulkan persepsi negatif terhadap aksi kemanusiaan.(Yud)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *